Logo Bloomberg Technoz

“Pasar menunjukkan respons klasik terhadap risiko geopolitik dengan reli pada obligasi dan emas, serta lonjakan harga minyak. Namun biasanya gejolak seperti ini akan mereda setelah reaksi awal,” kata Matthew Haupt, manajer portofolio di Wilson Asset Management, Jumat (13/6/2025).

“Yang kini menjadi sorotan adalah seberapa cepat dan besar respons dari Teheran, karena hal itu akan menentukan berapa lama ketidakstabilan ini berlangsung.” ujarnya, dilansir dari Bloomberg News.

Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran dalam eskalasi besar-besaran di tengah kebuntuan atas perundingan program nuklir Teheran dengan Amerika Serikat. Serangan ini berisiko memicu perang baru di Timur Tengah.

Menurut laporan media lokal, ledakan terdengar di Teheran. Iran sebelumnya telah berjanji akan membalas setiap serangan yang dilancarkan terhadap Republik Islam itu.

Dalam pernyataannya, Jumat (13/6/2025), Menteri Pertahanan Israel mengumumkan keadaan darurat khusus akibat "serangan pencegahan" Israel terhadap Iran. 

Katz menjelaskan bahwa Israel mengantisipasi serangan balasan dengan menggunakan pesawat nirawak dan rudal.

Serangan tersebut terjadi di tengah pertanyaan baru tentang upaya diplomatik untuk menyelesaikan ketegangan atas program nuklir Iran.

Bangunan reaktor di PLTN Bushehr di Bushehr, Iran. (Iran International Photo Agency/Getty Images via Bloomberg)

Negosiator AS dan Iran dijadwalkan mengadakan pembicaraan keenam di Oman pada Minggu (15/6/2025), tetapi pekan ini, Presiden Donald Trump mengaku kurang yakin terhadap peluang tercapainya kesepakatan.

Israel saat ini terlibat dalam operasi militer besar-besaran di Gaza dengan membombardir dan memblokade penduduk sipil selama 20 bulan terakhir dalam upaya menghancurkan Hamas setelah serangan mematikan kelompok tersebut terhadap negara Yahudi pada 7 Oktober 2023.

Sebelumnya, pada Kamis malam waktu setempat, Presiden Donald Trump mengatakan Israel "sangat mungkin" menyerang Iran, tetapi ia telah meminta sekutunya itu agar tidak melancarkan serangan selama negosiasi program nuklir Teheran masih berlangsung. Pasalnya, penarikan staf AS dari wilayah tersebut memicu kekhawatiran tentang serangan yang akan terjadi.

"Saya tidak ingin langsung mengatakan, tetapi tampaknya ini adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi," kata Trump kepada wartawan dalam acara di Gedung Putih, Kamis (12/6/2025) waktu setempat.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump mengatakan ia kurang yakin AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membatasi ambisi nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.

Presiden berulang kali mengatakan bahwa meski menginginkan solusi diplomatik, ia tidak ingin Teheran memperoleh senjata nuklir dan memperingatkan AS akan mengambil tindakan militer jika kesepakatan tidak tercapai.

(rui)

No more pages