Israel mengendalikan pengiriman terbatas bantuan kemanusiaan ke sekitar 2 juta penduduk Gaza, bersama dengan lembaga nirlaba yang didukung AS dan Israel bernama Gaza Humanitarian Foundation.
Kapal sipil Thunberg berlayar dari Sisilia pada 1 Juni, menurut Freedom Flotilla Coalition, dan membawa bantuan untuk Gaza yang meliputi makanan, susu formula bayi, dan perlengkapan medis.
Kapal itu dicegat sekitar 200 kilometer (125 mil) dari Gaza, menurut koordinat yang diberikan oleh organisasi tersebut, yang mengklaim sebagai gerakan solidaritas akar rumput.
Angkatan Laut Israel menginstruksikan kapal pesiar tersebut melalui sistem komunikasi sipil internasional bahwa zona maritim di lepas pantai Gaza ditutup bagi kapal-kapal yang tidak berizin.
"Jika Anda ingin mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, Anda dipersilakan melakukannya melalui Pelabuhan Ashdod melalui saluran dan pusat distribusi yang telah ditetapkan," kata Angkatan Laut.
Kelompok tersebut sebelumnya pernah berusaha menembus blokade, terakhir sebulan lalu, ketika kapal tersebut dilumpuhkan oleh serangan pesawat nirawak alias drone.
Israel berperang dengan Hamas sejak 7 Oktober 2023, ketika kelompok tersebut melancarkan serangan mendadak yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menahan 250 sandera. Lebih dari 50 sandera tersebut masih berada di Gaza, dan Israel meyakini sekitar 20 sandera di antaranya masih hidup.
Hamas melaporkan bahwa lebih dari 54.000 warga Palestina terbunuh akibat konflik tersebut, tanpa membedakan antara warga sipil dan pejuang. Israel kehilangan lebih dari 400 tentara dalam pertempuran di Gaza.
Beberapa sekutu terdekat Israel di Eropa, termasuk Jerman, Inggris, dan Prancis, semakin kritis terhadap perilaku Israel dalam perang, yang menghancurkan sebagian besar wilayah pesisir dan memicu krisis kelaparan, menurut lembaga bantuan internasional.
Mereka mempertimbangkan sanksi perdagangan dan pembatasan penjualan senjata untuk menekan Israel agar mengakhiri perang.
(bbn)




























