Pengeluaran liburan merupakan indikator penting untuk mengukur kekuatan konsumsi China—yang selama ini menjadi titik lemah dalam ekonomi senilai US$19 triliun yang kini bergantung pada permintaan domestik untuk menanggulangi guncangan dari luar dan menyerap kelebihan kapasitas produksi.
Festival Perahu Naga memperingati penyair kuno Qu Yuan dengan balapan perahu dan ditandai dengan makan kue beras tradisional. Festival ini merupakan salah satu dari tujuh hari libur panjang China yang secara tradisional digunakan orang untuk berbelanja, bepergian, dan bersantai.
Suasana perayaan selama liburan yang berakhir pada Senin relatif sepi di sebagian besar sektor ekonomi konsumen China, terutama karena sebagian besar wilayah negara tersebut dilanda hujan.
Meski penjualan tiket box office selama festival naik 21% secara yoy menjadi 460 juta yuan, angka ini hanya sekitar setengah dari level yang dicatat selama liburan yang sama pada tahun 2023, menurut data yang dikumpulkan platform tiket daring Maoyan Entertainment.
Berdasarkan data dari Administrasi Imigrasi Nasional, sebanyak 5,9 juta perjalanan lintas batas dilakukan, naik 2,7% dari tahun sebelumnya. Perjalanan masuk oleh warga asing melonjak 59% dibandingkan tahun sebelumnya selama liburan karena China mengizinkan perjalanan bebas visa bagi 43 negara.
Data terbaru memberikan gambaran tentang momentum konsumsi di China, di mana rumah tangga tetap berhati-hati dalam berbelanja di tengah ketidakpastian pekerjaan dan pendapatan.
Ekonomi masih bergulat dengan masalah domestik, seperti krisis properti, deflasi, dan ketegangan perdagangan dengan AS. Analis yang disurvei Bloomberg memperkirakan pertumbuhan tahunan penjualan ritel akan melambat selama dua bulan berturut-turut pada Mei.
Apa Kata Bloomberg Economics...
"Penurunan harga konsumen dan produsen di China menunjukkan ekonomi dalam kondisi lemah karena dampak perang dagang mulai memukul permintaan eksternal. Pasokan melebihi permintaan—menekan harga. Upaya kebijakan untuk meningkatkan konsumsi sejak kuartal keempat tahun lalu tampaknya masih gagal mendapatkan daya tarik yang signifikan."
— David Qu.
Meski ada kesepakatan untuk menunda tarif balasan menyusul pembicaraan bilateral bulan lalu di Jenewa, tingkat rata-rata tarif AS atas barang-barang China masih tinggi sekitar 40%, yang sangat memukul eksportir kecil dan memaksa mereka mengurangi jumlah tenaga kerja.
Menurut survei swasta yang diterbitkan bersama oleh Caixin dan S&P Global pada Selasa, sektor manufaktur China mengalami kemerosotan terburuk sejak September 2022 pada Mei, di mana pesanan baru menurun dan perusahaan memangkas jumlah pekerja.
"Ke depan, kami melihat kinerja liburan musim panas mendatang lebih penting untuk menilai permintaan perjalanan dan percaya investor akan memantau data hotel mingguan domestik dengan cermat," tulis analis Citigroup Inc, Brian Gong dan Alicia Yap dalam catatannya.
(bbn)































