Israel sempat memblokade penuh akses bantuan ke Gaza selama 11 pekan. Dalam beberapa hari terakhir, distribusi bantuan mulai dibuka kembali meski dilakukan secara terbatas dan tanpa melibatkan Hamas. Jika kesepakatan ini berjalan, distribusi akan kembali dilakukan oleh badan PBB, menggantikan sistem swasta yang sempat diberlakukan oleh pemerintah Israel.
Distribusi oleh lembaga swasta baru, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), disebut tidak berjalan mulus. Laporan dari lapangan menyebutkan adanya kekacauan dalam proses penyaluran. Meski demikian, GHF mengklaim telah meningkatkan volume distribusi sejak awal pekan ini.
Selain menghentikan sementara konflik, proposal dari AS juga memuat agenda negosiasi menuju penghentian permanen perang yang meletus sejak serangan Hamas ke selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan itu menewaskan 1.200 orang dan menculik sekitar 250 lainnya.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 54.000 orang tewas di wilayah tersebut sejak perang dimulai. Namun data ini tidak merinci jumlah warga sipil dan kombatan. Sementara itu, lebih dari 400 tentara Israel juga dilaporkan tewas.
Kendati ada kemajuan, para analis menilai usulan ini belum mampu menjawab tuntutan utama kedua belah pihak. Hamas tetap menekankan penarikan penuh pasukan Israel dan penghentian total perang, sedangkan pemerintah Israel menghendaki agar Hamas dilucuti senjatanya dan dibubarkan.
Tokoh senior Hamas, Bassem Naim, dalam unggahan di Facebook menyebut proposal tersebut tidak lebih dari versi keinginan Israel yang tetap mempertahankan pendudukannya di Gaza.
(bbn)




























