Logo Bloomberg Technoz

“Risiko utama adalah dari sisi jarak dan waktu pengiriman dari Amerika Serikat yang jauh lebih panjang yaitu sekitar 40 hari dibandingkan dengan sumber pasokan dari Timur Tengah ataupun negara Asia,” terangnya.

Jika terjadi kendala cuaca—seperti badai atau kabut — rute pelayaran yang jauh tersebut akan menimbulkan dampak langsung terhadap ketahanan stok nasional.

Tanker LPG./Bloomberg-Krisztian Bocsi

Untuk itu, Simon mengatakan Pertamina saat ini tengah melakukan kajian komprehensif; mencakup aspek teknis, komersial, dan risiko operasional guna memastikan skenario peningkatan suplai migas dari AS dapat dieksekusi secara efektif. 

“Selain itu juga, kami memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah dalam bentuk payung hukum, baik melalui peraturan presiden maupun peraturan menteri, sebagai dasar pelaksanaan kerja sama suplai energi bagi Pertamina,” tegasnya.

Dia pun memastikan Pertamina telah berkoordinasi dengan tim perunding yang dipimpin Kemenko Bidang Perekonomian dan saat ini tengah menjajaki ketersediaan suplai dari AS yang sesuai, baik dari sisi kualitas, volume, hingga aspek komersial yang tetap kompetitif.

Kerja Sama Rutin

Terlepas dari negosiasi tarif tersebut, Simon menyebut Pertamina selama ini sebenarnya sudah memiliki kerja sama rutin dengan AS untuk suplai komoditas migas.

Kerja sama tersebut mencakup minyak mentah sekitar 4% dari total impor nasional dan LPG 57%. Adapun, total nilai impor kedua komoditas tersebut dari AS mencapai US$3 miliar per tahun. 

Suplai LPG global./dok.. Bloomberg

Jika pemerintah menugaskan Pertamina untuk menambah impor migas dari AS sebagai bagian dari negosiasi tarif, lanjutnya, sifatnya hanya realokasi kuota dari negara lain dan bukan menambah kuota impor kumulatif nasional.

“Perlu kami sampaikan dan garis bawahi bahwa pengalihan ini bersifat shifting sumber pasokan bukan penambahan volume impor. Kami tetap berkomitmen menjaga efisiensi volume impor dan memastikan ketahanan energi nasional tetap menjadi prioritas utama.”

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan Pemerintah akan menaikkan porsi impor LPG dari AS dari hanya 54% menjadi sekitar 80%—85% dari total impor komoditas tersebut, yang sebanyak 7—8 juta ton/tahun.

“Sekarang kan 54% impor LPG kita dari Amerika dan kita akan naikkan sekitar 80%—85%. Kemudian, [impor] crude oil kita dari Amerika itu tidak lebih dari 4%, kita naikkan menjadi 40% lebih,” ujarnya ditemui di kompleks Istana Negara, Kamis (17/4/2025) petang.

Rencana kenaikan impor dari AS, kata Bahlil, juga akan dilakukan untuk komoditas BBM. Akan tetapi, dia belum mendetailkan berapa kenaikan porsi impor BBM dari AS yang direncanakan pemerintah karena masih akan dibahas bersama tim teknis Kementerian ESDM dan tim dari Pertamina.

Bahlil mengatakan Indonesia membuat AS defisit US$14,6 miliar pada tahun lalu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Akan tetapi, menurut data Pemerintah AS, nilai defisit dagang dengan Indonesia lebih dari yang diklaim BPS.

“Salah satu strategi kita untuk membuat keseimbangan adalah kita membeli LPG, minyak mentah, dan BBM dari Amerika. Nilainya untuk bisa memberikan keseimbangan terhadap neraca perdagangan [RI-AS,” sebut Bahlil.

Dia pun mengindikasikan rencana kenaikan impor berbagai komoditas migas dari AS itu memiliki taksiran nilai di atas US$10 miliar (sekitar Rp168,75 triliun asumsi kurs saat ini).

Namun, dia belum dapat memastikan kapan rencana tersebut dieksekusi lantaran masih harus dibahas bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$36,27 miliar. Postur impor itu berasal dari pembelian minyak mentah sekitarUS$10 miliar dan hasil migas sebesar US$25,92 miliar. 

Adapun, impor LPG Indonesia sepanjang 2024 mencapai 6,89 juta ton dengan nilai mencapai US$3,78 miliar. Porsi impor LPG dari Amerika Serikat mencapai 3,94 juta ton, dengan nilai impor US$2,03 miliar. 

Selain AS, Indonesia mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi hingga Algeria. 

Di sisi lain, kuota impor minyak mentah Indonesia dari AS terbilang kecil dibandingkan dengan realisasi impor sepanjang 2024. Indonesia mengimpor minyak mentah dari AS sekitar US$430,9 juta pada periode tersebut. 

Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari  Arab Saudi, Angola, Nigeria hingga Autralia. Sementara itu, impor bahan bakar minyak (BBM) kebanyakan berasal dari kilang di Singapura. 

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(wdh)

No more pages