“Kinerja kami di 2024 terjadi setelah periode pertumbuhan luar biasa di mana pendapatan Chanel hampir dua kali lipat dalam tiga tahun sebelumnya,” ujar Nair.
Meski begitu, penurunan penjualan dan anjloknya laba Chanel tetap mengejutkan, mengingat merek yang didirikan lebih dari satu abad lalu oleh Gabrielle “Coco” Chanel ini dianggap sebagai salah satu merek paling eksklusif dan tahan banting di industri fesyen, melayani pelanggan terkaya di dunia. Penjualan di Amerika turun 4,2%, sementara di Eropa naik tipis 0,6%.
“Sebagai perusahaan sebesar ini yang tengah menghadapi perubahan siklus, saya rasa kami perlu menyesuaikan struktur organisasi di berbagai bagian,” kata CFO Philippe Blondiaux dalam panggilan tersebut.
“Kami akan mengawasi biaya secara ketat demi menstabilkan margin,” sambil menambahkan bahwa Chanel memperkirakan jumlah karyawan akan tetap datar tahun ini setelah meningkat 5,1% tahun lalu. Awal tahun ini, Chanel mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 70 karyawan di AS.
Dalam upaya berinvestasi untuk jangka panjang, Chanel tahun lalu meningkatkan belanja modal (capital expenditures) sebesar 43% menjadi sekitar US$1,8 miliar, yang memangkas laba, ujar Philippe Blondiaux dalam pernyataan. Ia menambahkan bahwa Chanel diperkirakan akan berinvestasi dalam jumlah serupa tahun ini. Chanel juga menghabiskan sekitar US$2,4 miliar untuk “aktivitas pendukung merek” tahun lalu.
Belanja modal tersebut mencakup sekitar US$600 juta untuk akuisisi properti. Chanel secara khusus membeli sebuah gedung di Avenue Montaigne, kawasan mewah di Paris, tempat mereka memiliki toko, serta properti lain di rue Cambon. Chanel juga menyelesaikan kesepakatan untuk lokasi flagship barunya di New York, tambah Blondiaux, tanpa mengungkapkan lokasi pastinya.
Kinerja Chanel kemungkinan turut dipengaruhi oleh faktor lain. Divisi mode perusahaan ini kehilangan desainer utamanya, Virginie Viard, pada Juni lalu. Pada Desember, Chanel menunjuk penggantinya, Matthieu Blazy, yang dijadwalkan akan menampilkan koleksi perdananya di Paris Fashion Week pada Oktober mendatang.
Pelanggan seringkali menahan pembelian saat sebuah merek sedang mengalami transisi kreatif. Selain itu, biasanya butuh waktu sekitar setengah tahun sebelum rancangan desainer baru benar-benar tersedia secara komersial, yang berarti dampak dari karya Blazy kemungkinan baru akan terasa tahun depan.
“Kami tidak hanya fokus pada koleksi Oktober, kami akan melihat semua koleksi yang akan datang dalam beberapa tahun ke depan karena kami tahu sebuah visi butuh waktu untuk diwujudkan,” kata CEO Leena Nair.
Secara terpisah, perusahaan mengatakan bahwa mereka menunda kenaikan harga produk fesyen di AS sambil menunggu keputusan akhir terkait tarif yang diumumkan oleh Trump.
Berbeda dengan beberapa pesaingnya, perusahaan ini menyatakan ingin menunggu hasil diskusi terkait tarif tersebut. Trump bulan lalu memberlakukan tarif awal 10% terhadap produk dari Uni Eropa, sambil menunda rencana kenaikan menjadi 20% hingga awal Juli.
“Kami merasa pendekatan terbaik dan paling bertanggung jawab adalah menunggu dan melihat apa hasil akhir dari keputusan ini,” ujar Blondiaux. “Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan di tengah ketidakpastian ini.”
Pelaku utama industri barang mewah seperti LVMH, Hermès International SCA, dan pemilik Cartier, Richemont SA, belakangan ini telah menaikkan harga produk mereka di AS.
Dewan direksi Chanel dipimpin oleh Alain Wertheimer yang berusia 76 tahun, selaku Global Executive Chairman, yang memiliki merek ini bersama saudaranya, Gerard. Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan masing-masing diperkirakan sekitar US$42,3 miliar.
(bbn)




























