"Tambahan lain dari kerja sama dengan Australia juga di Morowali ada ekosistem sel baterai EV yang berbasis litium. Jadi Indonesia adalah salah satu produsen yang cukup lengkap di hulu untuk sel baterai," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menjajaki kerja sama pembelian konsentrat litium dengan Australia untuk memperkuat bahan baku bagi ekosistem industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri.
Hal itu disampaikannya usai agenda pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan delegasi Australia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Anthony Albanese di Istana Negara, Kamis (15/5/2025).
“Bicara soal critical mineral. Kita kan membangun ekosistem baterai mobil [listrik]. Kebetulan kita mempunyai nikel, kobalt, dan mangan; yang kita tidak punya itu kan litium. Tadi, dalam pembicaraan, kita [RI-Australia] ada kolaborasi nanti. Mereka akan kirim konsentrat litium di sini dan nanti di sini yang akan olah,” ujarnya.
Pengolahan konsentrat litium dari Australia tersebut, sambung Bahlil, akan langsung terintegrasi dengan pabrik ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Sekadar catatan, impor litium Indonesia dari Australia mencapai sekitar 80.000 ton per tahun. Tidak menutup kemungkinan, adanya kesepakatan baru dengan Negeri Kanguru akan berimbas pada penambahan kuota impor komoditas tersebut ke depannya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis total penjualan mobil dari Januari hingga April 2025 turun 2,9% secara year-to-date (ytd), menjadi 256.368 unit dibandingkan 264.014 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengamat Otomotif Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan bahwa mobil sebagai kebutuhan tersier memang tengah dikurangi oleh masyarakat di tengah ketidakpastian global yang masih mengancam. Terlebih menurut Agus, saat ini banyak masyarakat yang tengah terganggu pendapatannya. Namun, Ia meyakini bahwa pasar otomotif di Indonesia masih bisa berkembang.
“Apalagi di Indonesia, kendaraan per kapita masih sedikit dibandingkan dengan negara lain, kans untuk meningkat kembali selalu ada, tergantung pada situasi yang ada” katanya kepada Bloomberg Technoz, Kamis (15/5/2025).
(ain)































