Bhima mengatakan redanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China turut memengaruhi kinerja ekspor Indonesia terutama komoditas. Dari sisi konsumsi rumah tangga, kata Bhima, hal yang perlu diwaspadai karena gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi makin menekan daya beli.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat setidaknya ada 24.036 orang yang sudah kehilangan pekerjaan sejak Januari hingga 23 April 2025.
Selain itu, Bhima menggarisbawahi tidak ada fenomena seperti Ramadan dan Idulfitri pada kuartal II-2025. Sehingga, ekspektasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan lebih rendah dibandingka dengann kuartal I-2025.
"Proyeksi pertumbuhan secara tahun keseluruhan pada 2025 sebesar 4,7% [yoy]," ujarnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke level 4,78% (yoy) paada kuartal II-2025.
Josua mengatakan faktor pendorong pertumbuhannya adalah belanja pemerintah yang akan meningkat setelah pemerintah membuka blokir belanja untuk kementerian/lembaga (K/L) yang sebelumnya tertahan oleh kebijakan efisiensi atau realokasi anggaran.
"Periode hari libur nasional yang cukup banyak ditambah dengan gaji ke-13 Aparatur Sipil Negara [ASN] akan dapat menopang pertumbuhan konsumsi masyarakat," ujar Josua.
Investasi diproyeksi bisa meningkat sejalan dengan pembukaan blokir anggaran belanja K/L dan juga tensi perang dagang yang menurun.
Namun secara tahunan, terdapat efek dasar tinggi (high base effect) dari tahun lalu karena setengah Ramadan dan Idulfitri terjadi pada kuartal II-2024.
"Untuk tahun fiskal 2025, kami proyeksi ekonomi tumbuh 4,78% dan tahun fiskal 2025 sebesar 4,9%," ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,87% pada kuartal I 2025. Angka pertumbuhan ini tercatat terendah sejak kuartal III 2021 lalu.
Angka ini juga berada di bawah konsensus. Hasil konsensus pasar yang dihimpun berdasarkan survei Bloomberg, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ini akan tumbuh 4,92%
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tumbuh melambat 4,87% dibandingkan kuartal I 2024 atau secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka pertumbuhan ini berada di bawah pertumbuhan kuartal I 2024 yang berada di level 5,1% (yoy).
"Jika dibandingkan kuartal IV 2024 atau kuartalan, ekonomi Indonesia terkontraksi 0,98%," ujar Amalia.
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I umumnya memang relatif lebih rendah dibandingkan kuartal IV tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I atas dasar harga berlaku adalah Rp5.665,9 triliun. Sementara itu, atas dasar harga konstan, angkanya Rp3.264,5 triliun.
"Ekonomi Indonesia ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik," tutur Amalia.
(lav)



























