Produk ETF Bitcoin dalam catatan terakhir mengalami bullish dengan pengumpulan dana baru mencapai lebih dari US$41 miliar (sekitar Rp679 triliun), seiring dengan tren kenaikan aset kripto Bitcoin, sejak rilisan perdana awal Januari 2024, dilansir Farside Investors, dikutip dari Decrypt.
After yesterdays inflows, the spot Bitcoin ETFs are now at a new high water market for lifetime flows. Currently at $40.33 billion according to Bloomberg data h/t @EricBalchunas pic.twitter.com/0GKPNlmprs
— James Seyffart (@JSeyff) May 9, 2025
Kekhawatiran aksi profit taking terbukti saat sempat dihargai US$105.000-an kemudian dikembalikan ke level seperti perdagangan hari ini, meskipun pasar dipandang masih optimis terkait kabar positif perundingan dagang AS-China.
Pasar terus mengamati rilis data inflasi AS bulan April, dimana Indeks Harga Konsumen (CPI) tercatat naik tipis 0,2% dari Maret dalam pengumumannya Selasa malam waktu Indonesia.
CPI secara keseluruhan naik 0,2%, dan melesat sebesar 2,3% secara tahunan, situasi yang dapat memberi gambaran pergerakan inflasi AS sehingga membuka peluang kebijakan suku bunga The Fed yang lebih longgar/lebih ketat di masa depan.
“Ketegangan global yang mereda telah memberi ruang bagi aset kripto untuk reli dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, investor perlu tetap waspada aksi profit taking jangka pendek. Dari analisa teknikal, Momentum bullish berpotensi berlanjut apabila BTC mampu bertahan diatas MA-20 di US$97.645) dan support psikologis US$100.000,” ujar analis dari Ajaib Kripto, Panji Yudha.
Tren positif juga terjadi pada koin milik Elon Musk, Dogecoin DOGE, yang mengalami penguatan 9,6% dalam 24 jam perdagangan terakhir dan berada di harga US$0,241. Cardano ADA naik 5,4% ke US$0,825.
Pada posisi selanjutnya Solana SOL +7,5% dibandingkan hari sebelumnya menjadi US$181,71. XRP mencatatkan bullish 3,9% ke US$2,57. Avalanche AVAX juga menghijau dengan catatan +9,1% ke US$26,4. Terakhir, Shiba Inu SHIB (+8,6%) dan sementara mencatatkan harga US0,00001629.
Diketahui, dalam pernyataan bersama yang telah dikoordinasikan, AS memangkas tarif produk-produk China dari 145% menjadi 30% untuk periode 90 hari, sementara Beijing–China menurunkan tarifnya menjadi 10% untuk sebagian besar produk.
“Tidak ada yang memperkirakan tarif serendah ini untuk produk China. Ini kejutan besar,” ujar Jeff Buchbinder dari LPL Financial, dikutip dari Bloomberg. Di China, ada perasaan lega bahwa negosiasi perdagangan antara dua ekonomi terbesar dengan cepat membuahkan hasil.
Investor tetap bakal menyorot kebijakan Trump yang mungkin saja amat akrobatik, mengingat kepercayaan dirinya pada Februari silam untuk mendorong pengetatan tarif perdagangan hingga dibalas oleh China. Hal yang mendorong pelaku pasar menghindari aset-aset berisiko sejak saat itu sampai dengan bulan April.
(wep)






























