"Sebenarnya ada tanda-tanda bahwa perekonomian masih sangat tangguh, seperti permintaan domestik yang masih kuat," kata Wakil Menteri Perencanaan Ekonomi Rosemarie Edillon dalam jumpa pers, Kamis. "Namun tentu saja, permintaan global tidak begitu baik—sedang dalam periode volatilitas."
Ekonomi harus tumbuh setidaknya 6,2% dalam tiga kuartal yang tersisa untuk memenuhi target setahun penuh pemerintah setidaknya 6%, kata Edillon, seraya menambahkan bahwa para pejabat akan segera bertemu untuk meninjau asumsi ekonomi 2025.
Belanja konsumen tetap menjadi pendorong utama ekonomi dengan pertumbuhan 5,3% dari tahun sebelumnya, sedangkan pertumbuhan investasi melambat.
Data PDB terbaru bukan pertanda baik untuk prospek setahun penuh, kata Shreya Sodhani, ekonom regional di Barclays Plc, seraya menambahkan, konsumsi publik dan investasi tidak mungkin meningkat secara signifikan setelah Pemilu paruh waktu. "Ketidakpastian global akan membebani investasi, ini sudah terlihat jelas," ujarnya.
Peso melemah setelah rilis data PDB, diperdagangkan 0,1% lebih rendah terhadap dolar, dan termasuk yang berkinerja terburuk di antara mata uang utama negara berkembang Asia. Bursa saham turun tipis.
"Kami tidak menginginkan nilai mata uang terlalu tinggi karena ini akan berdampak buruk pada sektor-sektor yang dapat diperdagangkan," kata Edillon, menambahkan bahwa pemerintah menyerahkan tanggung jawab kepada bank sentral untuk mengatasi volatilitas mata uang.
Pertumbuhan yang melambat dari perkiraan mendukung gagasan bank sentral untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, terutama karena Presiden AS Donald Trump baru mengumumkan tarif globalnya pada awal April.
Kemarin (7/5/2025), Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, Eli Remolona mengatakan pihaknya bisa memotong suku bunga acuan sebesar 75 basis poin lagi tahun ini karena inflasi terus melambat.
Edillon mengatakan data hari ini tidak boleh dinilai sebagai "kekecewaan" karena ketidakpastian telah muncul sejak Januari.
"Ada banyak lapisan di dalamnya," katanya. "Kami melihat para pelaku bisnis juga telah mengantisipasi, juga menggunakan strategi untuk mengantisipasi lebih banyak ketidakpastian."
Meski Filipina kurang bergantung pada perdagangan dibandingkan negara-negara tetangganya, berkat belanja 114 juta penduduknya, ekspornya ke AS kini dikenai tarif sebesar 10% yang bisa naik jadi 17% jika negara ini gagal membuat AS menyetujui pengurangan tarif. Ekonomi juga bisa terdampak tidak langsung karena tarif tinggi di negara lain meningkatkan risiko perlambatan global.
(bbn)































