Sementara di pasar surat utang, pergerakan harga surat utang mayoritas menguat terutama tenor di atas 2 tahun. Mengacu OTC Bloomberg pagi ini, yield tenor SBN rata-rata bergerak sempit cenderung stabil. Yield tenor 10Y turun 0,1 bps kini di 6,861%.
Secara teknikal nilai rupiah sudah berada di area support antara Rp16.550/US$ sampai dengan Rp16.580/US$. Level support terkuat rupiah ada di Rp16.600/US$.
Sementara trendline terdekat pada time frame daily menjadi resistance psikologis paling potensial kembali pada level Rp16.500/US$. Kemudian, target penguatan optimis lanjutan untuk dapat kembali menguat ke level Rp16.440/US$.
Selama nilai rupiah bertengger di atas Rp16.600/US$ usai tertekan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga Rp16.650/US$.
Selanjutnya, rupiah akan menunggu data cadangan devisa April yang akan dirilis oleh Bank Indonesia pagi ini, yang diperkirakan akan berkurang cukup banyak menyusul guncangan yang melanda rupiah bulan lalu.
Dalam pernyataan kemarin, Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Hutapea mengatakan, rupiah masih dibayangi risiko global seputar tarif juga ketegangan geopolitik yang baru saja pecah antara India dan Pakistan.
"Kami masih tetap di pasar untuk menstabilkan rupiah. BI akan menjaga likuiditas yang memadai di psar valas seiring dengan antisipasi musim pembayaran dividen dan utang luar negeri jatuh tempo sampai Juni nanti," kata Erwin.
Cadangan devisa pada akhir Maret menyentuh level rekor tertinggi dalam sejarah di posisi US$ 157,08 miliar kendati pada pengujung bulan tersebut rupiah terhantam gejolak pasar.
Penerapan kebijakan penempatan wajib Devisa Hasil Ekspor (DHE) ditengarai memberikan penguatan pada suplai valas di dalam negeri, selain juga didukung oleh tambahan likuiditas dari penarikan utang valas pemerintah.
Stagflasi AS
Lanskap pasar global yang cenderung gamang pasca pernyataan less dovish dari Jerome Powell, Gubernur Federal Reserve, ketika mengumumkan keputusan FOMC dini hari tadi.
Pasar mendapati adanya risiko stagflasi yang lebih besar dari sinyal yang dilempar oleh Powell. Stagflasi yakni kondisi ketika inflasi tinggi di tengah perekonomian tumbuh lemah terindikasi dari pengangguran yang membesar.
Powell dalam pernyataannya usai mengumumkan keputusan FOMC menahan suku bunga kebijakan di level 4,5%, enggan memberikan petunjuk akan peluang penurunan bunga acuan The Fed ke depan. Malahan, The Fed menggarisbawahi peningkatan risiko inflasi serta tingkat pengangguran.
The Fed menilai ketidakpastian prospek ekonomi ke depan sudah meningkat lebih besar di mana risiko pengangguran kini lebih tinggi di tengah potensi inflasi yang juga meningkat.
Meski sesuai ekspektasi, petunjuk Powell membuat para traders semakin terdorong mengurangi harapan akan pemangkasan bunga acuan lebih banyak tahun ini.
Kini, pasar memperkirakan hanya akan ada tiga kali penurunan bunga Fed Fund Rate tahun ini. Dolar AS pun mendapatkan angin lagi dengan merangkak naik.
Di sisi lain, pasar masih mendapatkan optimisme dari perkembangan rencana negosiasi dagang antara Tiongkok dan AS. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer melakukan perjalanan akhir pekan ini ke Swiss untuk mengadakan perundingan dagang dengan China.
Awal negosiasi antara kedua negara ini akan dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Ini akan menjadi pembicaraan dagang pertama yang dikonfirmasi antara kedua negara sejak Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif yang luar biasa tinggi pada Tiongkok.
(rui)



























