Malahan, Bill Gates menambahkan, beberapa negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Prancis, dan Inggris telah menyusun peta jalan pengembangan nuklir di negara mereka masing-masing. Hanya saja, biaya investasi pembangkit nuklir saat ini masih terlalu mahal.
“Hari-hari ini reaktor menggunakan pendingin air dan beroperasi dengan tekanan tinggi, sehingga desainnya cukup rumit dengan ongkos yang besar,” kata Bill Gates di Istana Merdeka.
Belakangan, Bill Gates tengah mengembangkan desain baru pembangkit nuklir dengan ukuran kecil atau kini biasa disebut sebagai small modular reactor (SMR).
Upaya ini dikerjakan Bill Gates lewat perusahaan yang dia rintis bersama dengan koleganya pada 2006 lalu, bernama TerraPower.
Awalnya, TerraPower membentuk usaha patungan untuk mengembangkan desain baru reaktor ini di China. Hanya saja, kata Bill Gates, usaha patungan itu tidak lagi berlanjut.
“Pemerintah AS tidak suka kita bekerja di China, jadi kita mesti menggantinya dan sekarang kami sedang membangun beberapa reaktor pertama di Amerika Serikat [Wyoming],” tuturnya.
TerraPower saat ini bekerja sama dengan sejumlah perusahaan di Korea Selatan, seperti Hyundai dan SK Group sebagai investor, untuk mengembangkan desain reaktor baru ini.
“Reaktor pertama dijadwalkan beroperasi pada 2030, sepanjang tahun itu kami menargetkan membangun lebih dari 30 gigawatt (GW) kapasitas listrik,” tuturnya.
(naw)




























