Kekacauan itu memengaruhi misi China untuk melawan tatanan dunia yang dipimpin AS—tugas yang disatukannya dengan Rusia saat Presiden Joe Biden menggalang mitra untuk menahan kekuatan militer kedua negara, terutama setelah Putin mulai menginvasi Ukraina pada Februari 2022.
"Kunci utama agenda ini adalah peluang seperti apa yang ada, dan bagaimana mengoordinasikan tindakan Rusia dan China untuk menggunakan empat tahun ini guna menghilangkan hegemoni AS," kata Alexander Gabuev, Direktur Carnegie Russia Eurasia Center.
"Kedua pria itu ingin membantu Trump menghancurkan supremasi Amerika dan mencapai tatanan dunia multipolar di mana Rusia dan China bisa berkembang."
Strategi China, sejauh ini, adalah mendekati negara-negara dari Uni Eropa hingga Amerika Latin, untuk menemukan pasar baru bagi ekspor yang menjadi sasaran tarif 145% Trump terhadap ekonomi nomor dua di dunia itu.
Saat Trump mengedepankan kebijakan luar negeri "America First" untuk menegaskan dominasi global AS, Beijing menampilkan dirinya sebagai negara adikuasa yang lebih stabil melalui serangkaian video propaganda yang apik dan upaya diplomatik ke negara-negara yang lengah dari tindakan AS.
Namun, gambar Xi yang mengagumi kekuatan militer Putin beberapa pekan usai Rusia mengebom taman bermain Ukraina, dan saat Moskow menolak proposal AS untuk kesepakatan damai di Ukraina, akan memperkuat kekhawatiran di antara beberapa negara dalam upaya mendekati Beijing.
Para pejabat Eropa menolak keras dukungan China terhadap Rusia meski tengah memerangi Ukraina, sementara negara-negara Asia dari Jepang sampai Vietnam mewaspadai ambisi teritorial Beijing.
Menurut kantor berita Interfax, ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov pada Selasa mengatakan, Putin dan Xi akan mengadakan pembicaraan bilateral pada 8 Mei, termasuk mengenai perang di Ukraina, hubungan Rusia-AS, dan kerja sama kolektif BRICS dan G-20.
Mereka akan membahas isu-isu ekonomi dan energi, termasuk usulan jaringan pipa gas Power of Siberia 2, juga akan merilis pernyataan bersama dan mengadakan jumpa pers singkat dengan para wartawan.
Xi akan menjadi bintang utama dalam barisan pemimpin Global South pada parade Jumat, termasuk Luiz Inacio Lula da Silva dari Brasil dan Nicolas Maduro dari Venezuela—pengingat bahwa banyak negara telah menjunjung tinggi hubungan dengan Rusia.
Setelah Trump pekan ini mengatakan bahwa kesepakatan dagang pertama bisa tercapai dalam beberapa hari lagi, pemimpin tertinggi China akan memiliki kesempatan untuk memperingatkan para pemimpin lain agar tidak membuat pakta yang merugikan Beijing.
Kunjungan ini juga dilakukan saat Rusia dan China menghadapi tantangan ekonomi baru. Bagi Beijing, tarif Trump sangat merugikan, di mana aktivitas pabrik bulan lalu terpukul, membuat impor dari negara tetangganya semakin penting.
Rusia, salah satu dari sedikit negara yang lolos dari "tarif resiprokal" di tengah sanksi besar-besaran terhadap ekonominya, menghadapi hambatan dari rencana Eropa untuk memutuskan hubungan gas dengan negara itu, dan tahun keempatnya mendanai perang yang terus berlanjut.
Pemimpin China mungkin akan mencari Putin untuk mendapatkan lebih banyak dukungan politik setelah pertemuan BRICS negara-negara pasar berkembang bulan lalu menghindari menyebut nama Trump atau AS secara langsung, meski ada indikasi China ingin memanfaatkan kelompok itu untuk melawan Washington.
Kehadiran Xi dalam parade ini merupakan tanda "solidaritas dengan Rusia," kata Fyodor Lukyanov, Kepala Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan, yang menjadi penasihat Kremlin. "Ini menunjukkan kemitraan antara Rusia dan China terus berkembang, terlepas dari upaya Washington," imbuhnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menepis spekulasi bahwa keputusan pemerintahan Trump menghidupkan kembali perundingan yang telah lama terhenti dengan Moskow, untuk mencapai kesepakatan damai, merupakan upaya untuk memisahkan Rusia dari China.
Persyaratan yang sedang dibahas antara Moskow dan AS mencakup konflik membeku yang akan memberikan Rusia kendali de facto atas wilayah di Ukraina timur dan selatan yang direbutnya melalui perang tersebut—rencana yang sebagian besar sesuai dengan usulan yang diajukan Beijing beberapa tahun lalu, yang memberi Xi kemenangan ideologis.
Meski begitu, lembaga think tank berafiliasi dengan Kementerian Keamanan Negara China dalam komentar baru-baru ini tampaknya memberi sinyal ketidaknyamanan tentang bagaimana negosiasi berlangsung—tampaknya mengarahkan kritik tersebut kepada Trump.
Pembicaraan langsung mungkin akan mempercepat kesepakatan, kata lembaga itu, tetapi mengabaikan lembaga multilateral "akan menyebabkan fragmentasi lebih lanjut dari tatanan global."
Laporan terpisah dari lembaga yang sama memberikan penilaian suram terhadap ekonomi Rusia, menyoroti masalah-masalah seperti menumpuknya utang, kekurangan tenaga kerja, dan inflasi. Para peneliti tidak berspekulasi apa artinya hal itu bagi China.
Sementara Rusia yang lebih lemah bisa memberi Xi lebih banyak pengaruh, ada juga kemungkinan bahwa Putin yang berada di bawah tekanan akan bergerak mendekat ke AS.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina, sanksi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya telah memaksa Moskow meningkatkan ekspornya ke China. menurut data bea cukai China, perdagangan bilateral keduanya mencapai rekor baru sebesar US$245 miliar pada tahun 2024, naik 68% dari tahun 2021.
Namun, kecepatan pertumbuhan tersebut menurun sejak puncaknya pada pertengahan 2024, di mana ekspor pada kuartal pertama menjadi terendah sejak pertengahan 2022, tepat setelah invasi.
Sebagian dari hal itu disebabkan oleh anjloknya impor mobil China oleh Rusia, yang melonjak popularitasnya setelah perusahaan-perusahaan asing hengkang. Tren itu menurun dalam beberapa bulan terakhir, sebagian karena pajak Rusia meningkat.
"Moskow yang ingin lebih banyak investasi daripada sekadar ekspor dari China, bisa dimengerti," kata John Gong, profesor University of International Business and Economics di Beijing yang telah bekerja sebagai konsultan untuk Kementerian Perdagangan China. Namun, tanpa lingkungan yang lebih aman di Rusia, hal ini akan sulit bagi banyak investor China.
Meski begitu, lantaran Putin sekarang sedang didekati Trump, Xi mungkin akan menawarkan lebih banyak hal yang bisa membuat Putin tertarik, selama kunjungannya ke Rusia.
"Mungkin inilah saatnya Beijing memutuskan untuk bermain manis pada beberapa hal yang diinginkan Rusia, seperti Power of Siberia 2," kata Neil Thomas, peneliti politik China di Pusat Analisis China di Asia Society Policy Institute.
Rusia sudah berusaha keras untuk mendapat persetujuan China untuk jaringan pipa Power of Siberia 2, yang akan melewati Mongolia. Beijing ragu-ragu menuntaskan perjanjian, dengan alasan tidak begitu membutuhkan bahan bakar tambahan dan lebih memilih mempertahankan berbagai pilihan pasokan, tanpa bergantung pada satu negara.
Setiap ketegangan yang ditimbulkan oleh berakhirnya perang di Ukraina yang ditengahi tim Trump, atau melambatnya perdagangan antara kedua belah pihak, tampaknya tidak sebanding dengan tujuan bersama untuk menantang kekuatan AS di panggung dunia.
Menjelang kunjungan Xi, Putin menyoroti hubungan "strategis" Rusia dengan China melalui film dokumenter yang disiarkan di televisi pemerintah Rusia pada 4 Mei. "Turbulensi di dunia tidak berkurang, tetapi justru meningkat, dan kami memiliki hubungan yang bisa diandalkan dan stabil, sehingga keberadaannya memperkuat stabilitas global," katanya.
China dan Rusia ingin menetapkan model baru hubungan negara adidaya, kata Wang Yiwei, profesor hubungan internasional Universitas Renmin dan mantan diplomat yang dianggap dekat dengan pemerintah di Beijing.
"Sistem AS lebih banyak dipimpin oleh AS, tidak setara, tidak inklusif," ungkapnya. "China dan Rusia selalu saling membutuhkan untuk mendukung dunia yang multipolar."
(bbn)




























