“Total investasinya ini mencapai US$2,8 miliar sesuai dengan target awal,” kata dia.
Rencana investasi tambahan LGES yang dimaksud Rosan mengacu pada proyek Omega di Karawang. Pada proyek ini, LGES bermitra dengan Hyundai membentuk kongsi PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power.
Rencanannya, kapasitas pabrik kongsi LGES & Hyundai ini bisa mencapai 30 gigawatt per hour (GWh). Adapun, pabrik ini baru memulai produksi tahap awal untuk kapasitas 10 GWh terpasang.
“Pengembangan ini saya yakin bisa terealisasi dengan cepat karena kami pun aktif berbicara dengan mereka dan mereka responsnya sangat positif untuk pengembangan tahap kedua dari sel baterai ini,” tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah memutus kerja sama LGES pada proyek Titan, rencana investasi terintegrasi dari sisi hulu tambang sampai pabrik baterai bersama dengan IBC.
Surat terminasi kerja sama itu diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 31 Januari 2025. Surat yang diteken Menteri ESDM Bahlil Lahadalia itu kemudian dikirim ke CEO dari LG Chem Ltd dan LGES.
Saat itu, pemerintah beralasan proyek ini molor terlalu lama akibat negosiasi bersama dengan LGES yang tidak kunjung rampung selama 5 tahun terakhir.
“Karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun, jadi tidak mungkin proyek itu [dibiarkan terkatung-katung] lama begitu,” kata Rosan saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (23/4/2035).
Di sisi lain, Head of Corporate Strategy Hyundai Motors Indonesia (HMID) Hendry Pratama mengatakan hengkangnya LGES dari Proyek Titan tidak akan memengaruhi peran perusahaan tersebut di Proyek Omega, yang sudah berjalan.
“Untuk LG dan Hyundai, JV [joint venture] HLI sudah memproduksi sel baterai sejak Juli 2024. Atas berita [hengkangnya LG dari Proyek Titan] ini tidak ada hubungan langsung dari operasional HLI. [...] HLI sampai saat ini beroperasi biasa,” ujarnya di acara RE Invest: Indonesia, Kamis (24/4/2025).
(naw)





























