Apple juga telah mengirimkan iPhone buatan India ke AS guna menghindari dampak tarif resiprokal yang diberlakukan Trump, yang mencakup tambahan bea masuk hingga 145% terhadap barang elektronik asal China.
Pasar Amerika sendiri menyumbang sekitar 28% dari total pengiriman iPhone global yang mencapai 232,1 juta unit pada 2024, berdasarkan data IDC.
CEO Apple Tim Cook dilaporkan aktif melobi pemerintah AS untuk melindungi Apple dari beban tarif penuh.
Menurut laporan Mac Rumors, Tim Cook berhasil mengamankan pengecualian sementara dari tarif tinggi untuk produk-produk kunci seperti iPhone, Mac, Apple Watch, dan iPad. Namun, pengecualian ini bersifat sementara.
Trump menegaskan bahwa tidak ada perusahaan yang akan "terbebas dari tanggung jawab" seiring dengan peninjauan ulang kebijakan perdagangan, termasuk sektor semikonduktor dan elektronik.
Mitra Apple di India
Di India, Apple bermitra dengan Tata Electronics dan Foxconn guna meningkatkan produksi. Dalam 12 bulan hingga Maret 2025, Apple tercatat telah merakit iPhone senilai US$22 miliar (Rp370 triliun) di India, meningkat hampir 60% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi di India kini juga menyumbang 20% dari total produksi iPhone global Apple—atau satu dari lima iPhone—menurut data Bloomberg. Sebagian besar produksi iPhone di India dilakukan di pabrik Foxconn di wilayah selatan India.
Tata Group juga berperan penting, setelah mengakuisisi operasi lokal Wistron dan mengelola fasilitas Pegatron di India. Dari produksi tersebut, Apple mengekspor iPhone senilai sekitar US$17,5 miliar (Rp294 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025.
Ragam cara memperluas manufaktur di India ini menjadi kunci penting strategi jangka panjang Apple, di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap China.
Meski produksi sudah berpindah, Apple tetap bergantung pada komponen dari China, yang menunjukkan bahwa perubahan penuh dalam rantai pasok global membutuhkan waktu panjang.
Wistron awal mula terlibat dalam rantai pasok Apple pada tahun 2017 lewat kerja sama produksi iPhone 6s dan iPhone SE di pabrik Bengaluru.
Diversifikasi produksi didasari atas pajak impor yang tinggi untuk barang-barang China, hingga akhirnya, Apple memindahkan lebih banyak produksi ketika perang dagang AS dan Cina meningkat selama masa jabatan pertama Donald Trump.
Perkiraan analis sampai dengan akhir 2025 pangsa pasar produksi India atas iPhone bisa terus membesar menjadi sekitar 25%, bahkan bisa lebih besar efek Apple yang akan menggandakan produksi untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 60 juta iPhone yang terjual setiap tahun di AS pada akhir 2026.
Tak Mudah Produksi iPhone di Amerika
Meskipun tarif Trump mendorong Apple keluar dari China, tetapi sebagai catatan saja, memindahkan manufaktur iPhone ke Amerika dinilai hampir mustahil dalam waktu dekat. Meski Apple pernah memproduksi Mac Pro di Texas, kapasitas produksinya jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan iPhone yang dijual ratusan juta unit per tahun.
Menurut analis Wall Street Journal Joanna Stern, untuk membangun produksi iPhone skala penuh di AS diperlukan investasi miliaran dolar AS, reformasi pendidikan, pelatihan tenaga kerja besar-besaran, dan waktu antara tiga hingga lima tahun. Bahkan, Stern menyebut, "apa pun bisa dilakukan dengan cukup waktu, uang, dan mungkin sedikit keajaiban."
Apple sendiri memperluas produksi ke negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia, meskipun sebagian besar difokuskan pada produk selain iPhone, seperti Mac, AirPods, dan iPad.
Dengan demikian, ambisi Trump membawa manufaktur kembali ke dalam negeri, meski memiliki semangat nasionalisme ekonomi yang kuat, dihadapkan pada tantangan nyata dari kompleksitas rantai pasok global.
(prc/wep)
































