Logo Bloomberg Technoz

Kremlin mempublikasikan video pendek di Telegram yang memperlihatkan Witkoff menyapa pemimpin Rusia itu pada Jumat sebelum duduk satu meja dengannya. Ajudan kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov dan utusan hubungan ekonomi, Kirill Dmitriev juga hadir.

Ushakov mengatakan kepada wartawan di Moskow bahwa pembicaraan selama tiga jam itu "konstruktif" dan mendekatkan sikap AS dan Rusia dalam berbagai isu, termasuk Ukraina. Putin dan Witkoff membahas kemungkinan untuk melanjutkan pembicaraan langsung antara Rusia dan Ukraina.

Bloomberg News melaporkan sebelumnya, Witkoff akan menyampaikan permintaan AS kepada Putin agar Ukraina berhak memiliki angkatan bersenjata dan industri pertahanannya sendiri sebagai bagian dari perjanjian damai.

Trump, yang terburu-buru ingin mengakhiri perang saat mendekati 100 hari pertama masa kepresidenannya, meningkatkan tekanan pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Rabu untuk menerima perjanjian, yang dikhawatirkan para kritikus akan menguntungkan Moskow. Pertemuan Witkoff dengan Putin ini keempat kalinya karena AS berupaya mencapai gencatan senjata.

Setuju membiarkan Kyiv mempertahankan angkatan bersenjatanya, seperti yang diminta Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa, berarti Putin harus menyerah atas tuntutannya untuk "demiliterisasi" negara itu, salah satu tujuan utamanya dalam perang yang kini memasuki tahun keempat.

Bloomberg sebelumnya melaporkan proposal AS lainnya jauh lebih menguntungkan Moskow, termasuk pengakuan Washington atas pendudukan Rusia di Krimea tahun 2014 dan pembekuan perang di sebagian besar wilayah sepanjang garis pertempuran yang akan membuat Putin memegang kendali atas mayoritas wilayah timur dan selatan Ukraina. Kyiv juga akan diminta untuk merelakan tujuannya bergabung dengan aliansi pertahanan NATO. 

Masyarakat internasional menolak mengakui semenanjung Krimea sebagai wilayah Rusia untuk menghindari legitimasi aneksasi ilegal Putin. Zelenskiy berulang kali mengatakan tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Moskow.

Saat ditanya apakah ia akan menerima kesepakatan di mana Krimea dan wilayah lain yang direbut Putin dari Ukraina dimasukkan ke dalam wilayah Rusia, Trump mengatakan dalam wawancara dengan majalah Time yang diterbitkan pada Jumat, "Krimea akan tetap bersama Rusia." Menurutnya, Zelenskiy "memahami hal itu."

Pemimpin AS itu mengatakan ia memberikan "banyak tekanan pada kedua pihak" yang terlibat dalam perang ini. Dia mengira Putin "ingin membuat kesepakatan. Kami akan segera mengetahuinya."

Saat ditanya konsesi apa yang ditawarkan Rusia, Trump berkata, "menghentikan perang, menghentikan perebutan negara—konsesi yang cukup besar."

Zelenskiy mengakui pasukan Ukraina tidak akan bisa memperoleh kembali kendalinya atas Krimea. "Ini benar apa yang dikatakan Trump, bahwa kami tidak memiliki cukup senjata—senjata, bukan orang—untuk mendapatkan kembali kendali atas Krimea dengan senjata," ungkapnya kepada wartawan pada Jumat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Ruang Oval Gedung Putih (Fotografer: Jim Lo Scalzo/EPA/Bloomberg)

Dalam wawancara dengan CBS News, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan ada "beberapa tanda bahwa kami bergerak ke arah yang benar" menuju kesepakatan—menambahkan bahwa Moskow masih memiliki isu-isu yang perlu dinegosiasikan.

Rusia terus mengebom kota-kota di Ukraina, bahkan saat perundingan terus berlanjut. Rusia melancarkan serangan udara terbesar tahun ini terhadap Ukraina awal pekan ini, menargetkan Kyiv dan menewaskan setidaknya 12 orang.

Trump mengkritik Putin atas serangan terbarunya terhadap Ukraina itu, sementara Zelenskiy menyerukan "gencatan senjata tanpa syarat" untuk memfasilitasi perundingan.

Menurut Komite Investigasi Rusia, Mayor Jenderal Yaroslav Moskalik, Wakil Kepala Direktorat Operasi Utama Staf Umum Rusia, tewas setelah sebuah bom mobil meledak di wilayah Moskow pada Jumat.

Trump dan para pejabat AS lainnya sudah mengancam akan keluar dari negosiasi jika kesepakatan tidak segera tercapai. Witkoff dijadwalkan tiba di ibu kota Oman, Muscat hari ini, Sabtu (26/4/2025), untuk melakukan perundingan ketiga mengenai program nuklir Iran.

(bbn)

No more pages