Logo Bloomberg Technoz

“2025 tampaknya akan menjadi tahun transisi yang kembali sulit bagi Gucci,” tulis analis Citi yang dipimpin Thomas Chauvet dalam catatannya.

Sebagai pemilik merek-merek seperti Yves Saint Laurent, Bottega Veneta, dan Balenciaga, Kering mengandalkan Gucci yang menyumbang lebih dari 60% dari total laba perusahaan. Oleh karena itu, pemulihan Gucci menjadi sangat krusial bagi grup asal Prancis yang dikuasai oleh keluarga miliarder Pinault tersebut. Bulan lalu, Kering menunjuk Demna Gvasalia — yang dikenal dengan nama depannya saja, Demna — sebagai desainer baru Gucci.

Demna sebelumnya menjabat sebagai direktur artistik Balenciaga selama satu dekade dan berhasil membawa pertumbuhan pesat lewat desain nyentrik seperti sneakers Triple S. Namun, ia juga pernah tersandung kontroversi akibat kampanye iklan anak yang menuai kecaman. Kini, Demna menghadapi tantangan lebih besar di Gucci, merek yang skalanya jauh lebih besar. Ini menjadi kali kedua dalam dua tahun terakhir Gucci mengganti desainer utamanya, sehingga proses pemulihan diperkirakan tidak akan berlangsung cepat.

Wakil CEO Kering, Francesca Bellettini, menyatakan bahwa karya-karya Demna akan mulai berdampak pada koleksi Gucci mulai September mendatang — meski belum dipastikan apakah ia akan mengarahkan langsung peragaan busana Milan di bulan tersebut.

“Demna adalah bagian dari grup; dia sudah mulai bekerja bersama tim di Gucci,” ujar Chief Financial Officer Kering, Armelle Poulou, dalam sesi konferensi pers via telepon.

Paruh Kedua Tahun

Menurut Poulou, hingga saat ini belum terlihat perubahan signifikan pada tren penjualan di kuartal kedua, kecuali sedikit perlambatan di Jepang. Ia menambahkan, Kering masih memperkirakan kinerja paruh kedua tahun ini akan lebih baik dibanding paruh pertama.

“Kebangkitan Gucci belum terlihat, dan kemungkinan akan menghadapi tantangan lebih berat karena permintaan barang mewah mulai melemah,” tulis analis Bernstein, Luca Solca, dalam laporannya.

Secara keseluruhan, penjualan di jaringan ritel milik Kering tercatat turun 25% di kawasan Asia-Pasifik dan mengalami penurunan dua digit di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang.

Meski begitu, Poulou menyebut Kering masih memiliki “kemampuan untuk menjaga margin lewat kenaikan harga” di pasar AS. Ia menambahkan bahwa pihaknya saat ini masih menganalisis pengumuman awal terkait tarif impor terbaru.

(bbn)

No more pages