Dia menuturkan PMA tercatat sebesar Rp230,4 triliun atau setara 49,5% dari total investasi dan PMDN sebesar Rp234,8 triliun atau setara 50,5%.
Berdasarkan daerahnya, investasi yang masuk di pulau Jawa mencapai Rp229,3 triliun, dengan porsi 49,3% dari total investasi. Sedangkan luar Jawa tercatat senilai Rp235,9 triliun atau setara 50,7%.
“Ini menunjukan keyakinan dunia internasional dalam berinvestasi ke Indonesia terjaga,” kata dia.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi hanya 4,7% pada 2025 dan 2026.
Proyeksi pertumbuhan itu termaktub dalam laporan World Economic Outlook Update per Apil 2025.
Jika terwujud, maka pertumbuhan ekonomi 4,7% pada 2025 dan 2026 akan menjadi yang paling rendah setelah 2021. Kala itu, pertumbuhan ekonomi Tanah Air tumbuh 3,69% secara kumulatif.
Angka proyeksi terbaru dari IMF jauh lebih rendah dibanding laporan pada Januari 2025.
Kala itu, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level 5,1% pada 2025 dan 2026. Untuk inflasi Indonesia, IMF memangkas proyeksi ke level 1,7% pada 2025, atau lebih rendah dibandingkan dengan 2,3% pada 2024.
Namun, inflasi diproyeksikan akan kembali naik ke level 2,5% pada 2025. Selanjutnya, IMF memproyeksikan tingkat pengangguran di Indonesia akan meningkat menjadi 5% pada 2025 dan 5,1% pada 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 4,9% pada 2024.
(azr/naw)



























