Logo Bloomberg Technoz

Para pengelola dana global diperkirakan akan cenderung bersiap untuk perang dagang dalam derajat yang lebih panas, sehingga kebijakan investasi kemungkinan akan menghindari aset-aset berisiko, termasuk aset di emerging market seperti Indonesia.

Pasar global juga menghadapi ketakutan baru menyusul pelemahan dolar AS bersamaan dengan kejatuhan harga US Treasury, surat utang Pemerintah AS, terindikasi dari yield yang terus merangkak naik di 4,5% untuk tenor 10Y. Ada dugaan pemodal menempuh flight to safety yakni ke emas dan valuta safe haven seperti yen dan franc Swiss.

Indeks dolar AS pekan lalu tergerus melemah 2,84% sempat menyentuh di bawah 100. Pagi ini pada sesi Asia, indeks dolar AS bergerak melemah di kisaran 99,73.

Sementara itu mata uang Asia pagi ini dibuka variatif. Won melemah bersama yuan offshore dan dolar Hong Kong. Sedangkan ringgit, dolar Singapura dan yen Jepang menguat pagi ini.

Asing keluar dari RI

Animo asing masih belum kembali di pasar domestik. Berdasarkan data yang dirilis oleh Bank Indonesia, secara agregat selama periode 8-10 April atau pekan perdagangan pertama setelah libur panjang Lebaran, asing membukukan net sell senilai Rp24,04 triliun yang menjadi terbesar untuk outflows mingguan. 

Pemodal asing keluar dari pasar domestik, menjual SRBI sebesar Rp10,74 triliun, lalu SBN senilai Rp7,84 triliun dan dari pasar saham sebesar Rp5,73 triliun.

Bank Indonesia akan merilis berbagai data penting pekan ini. Diawali dengan rilis data cadangan devisa sampai akhir Maret yang kemungkinan akan cenderung stagnan bila melihat kinerja rupiah pada bulan itu masih positif dengan penguatan 0,12%.  Lalu, BI akan merilis pula data survei konsumen serta kinerja penjualan ritel. 

Sementara dari luar negeri, Kementerian Keuangan akan menggelar lelang sukuk negara (SBSN) pada Selasa esok dengan target Rp10 triliun. Pekan ini, masa penawaran SBN ritel yaitu Sukuk Tabungan seri ST014 juga akan ditutup pada 16 April nanti. 

Dari luar negeri, pekan ini pasar masih akan fokus mencermati perkembangan seputar kebijakan AS untuk penerapan tarif terhadap Tiongkok. 

China akan merilis data pertumbuhan ekonomi mereka, termasuk kinerja neraca dagang. Data penjualan ritel AS serta produksi industri juga akan dirilis pekan ini.

Pasar juga akan menunggu pidato dari Gubernur Federal Reserve, bank sentral AS, Jerome Powell di sebuah acara di Chicago. Beberapa gubernur Fed negara bagian juga dijadwalkan bicara di berbagai forum sepanjang pekan ini.

Sementara bank sentral Eropa, dan beberapa negara lain dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan bunga acuan mereka.

Analisis teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melemah usai kemarin gagal menjebol level resistance potensial, mengindikasikan mata uang masih terjebak di tren bearish. Cermati support Rp16.810/US$ yang menjadi support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.850/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut menuju Rp16.900/US$ hingga Rp17.000/US$ sebagai support terkuat.

Bila rupiah menguat hari ini, resistance yang patut dicermati pada level Rp16.740/US$ dan selanjutnya Rp16.700/US$ secara potensial bagi rupiah dalam time frame daily, sepekan perdagangan ke depan. Target kenaikan menuju area potensial mendekati MA-50.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Senin 14 April 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

    (rui)

    No more pages