Potensi perluasan produksi di India akan bergantung pada kesiapan teknologi mitra manufaktur lokal (EMS), komitmen investasi Apple, serta dukungan kebijakan dari pemerintah India.
Sementara itu, Samsung memiliki posisi yang relatif lebih kuat dalam menghadapi perubahan ini.
Perusahaan asal Korea Selatan ini tidak terlalu bergantung pada China dan telah memiliki kapasitas produksi signifikan di India. Hal ini memungkinkan Samsung untuk memindahkan sebagian produksi dari Vietnam guna menghindari tarif 46% yang baru.
"Lebih jauh, jika pemerintah Korea Selatan berhasil bernegosiasi dengan AS, beberapa ekspor model premium dari pabrik Samsung di Korea Selatan juga akan mengalami peningkatan," jelas Tarun Pathak Direktur Riset Counterpoint.
Motorola diperkirakan memanfaatkan pabrik di Brasil—yang hanya dikenakan tarif 10%—untuk merelokasi sebagian produksinya. Perusahaan ini juga disebut mulai mengarahkan produksi ke India melalui mitra EMS lokal.
Sementara itu, Google, yang mengalami pertumbuhan melalui seri Pixel, juga mempertimbangkan opsi serupa.
Namun, menurut riset Counterpoint, solusi jangka panjang seperti relokasi produksi memerlukan waktu dan investasi besar.
"Dalam jangka pendek, dampaknya tetap akan terasa," ujar Jeff Fieldhack, Direktur Riset Counterpoint.
Jeff menambahkan bahwa kondisi ini membuka peluang bagi merek-merek baru yang tidak bergantung pada ekosistem China untuk masuk ke pasar AS.
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum lama ini mengumumkan kebijakan tarif timbal balik terhadap 57 negara pada 2 April 2025.
Keputusan ini akan berdampak langsung pada industri smartphone global, termasuk merek-merek besar seperti Apple, Samsung, Motorola, Google, serta berbagai pemasok berbasis di China yang melayani segmen prabayar di pasar AS.
Kebijakan baru tersebut menetapkan tarif hingga 104% untuk produk asal China, menjadikannya negara dengan tarif tertinggi dalam kebijakan ini.
Sementara Vietnam akan dikenakan tarif sebesar 46%, yang akan berdampak langsung pada Samsung—mengingat lebih dari 60% produksi globalnya berasal dari negara tersebut. India, sebagai perbandingan, hanya dikenai tarif sebesar 26%.
Meski Trump mengumumkan menunda tarif tinggi untuk puluhan mitra dagang AS selama 90 hari—dengan mengecualikan bea masuk untuk China meningkat menjadi 125%—kenaikan tarif ini dapat berpotensi meningkatkan harga jual ponsel di pasar AS dan menurunkan permintaan konsumen, tergantung pada lokasi produksi masing-masing merek.
(prc/naw)





























