Faktanya, sebagai bagian dari produk domestik bruto (PDB), laju pemotongan tahunan yang dibayangkan Musk akan melampaui Thatcher pada tahun 1980-an, saat Iron Lady secara dramatis memangkas belanja pemerintah Inggris untuk menutup defisit anggaran dan melawan inflasi, tapi pada akhirnya memicu resesi yang tidak bisa diatasi.
Belanja federal menyumbang sekitar seperempat dari PDB AS, sehingga pemotongan sebesar, yang digembar-gemborkan Musk, mengancam melemahkan perekonomian, tepat saat pasar sudah gelisah dengan risiko perlambatan.
Upaya pemerintahan Trump juga memiliki tujuan ideologis yang sama dengan Thatcher: untuk secara substansial mengurangi keterlibatan pemerintah dalam segala hal, mulai dari infrastruktur hingga inovasi, dengan keyakinan bahwa hal itu akan membebaskan perusahaan swasta.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah berbicara tentang perlunya untuk segera menurunkan defisit anggaran menjadi 3% dari PDB, kurang dari setengah dari saat ini, dan untuk menyingkirkan pemerintah dari dunia bisnis.
"Tujuan kami ialah mereprivatisasi ekonomi," kata Bessent dalam pidatonya bulan lalu. Pekerjaan di sektor pemerintahan, pendidikan, dan layanan kesehatan menyumbang 95% dari seluruh penciptaan lapangan kerja di AS selama setahun terakhir, katanya, dan hal ini "tidak diinginkan maupun berkelanjutan."
"Pasar dan ekonomi baru saja terpikat, dan kita menjadi kecanduan dengan belanja pemerintah ini," kata Bessent kepada CNBC dalam wawancara pada 7 Maret 2025. Artinya, "akan ada periode detoksifikasi."
Pasar telah membuat penilaian yang suram terhadap komentar-komentar seperti itu.
Namun, pandangan bahwa pemerintah sebagai penghambat yang kurang produktif juga dianut oleh Stephen Miran, Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Trump yang baru, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, yang juga sudah mengajukan rencana untuk meningkatkan pendapatan tambahan sebesar US$1 triliun, sebagian besar melalui tarif baru.
Dalam tujuh pekan menjabat, Trump telah menyusun rencana untuk menghapus lebih dari 100.000 pekerja federal; para ekonom memprediksi sebanyak setengah juta pegawai federal akan kehilangan pekerjaan tahun ini.
Prospek pemangkasan besar-besaran sudah memicu perhitungan fiskal bagi pemerintah daerah, universitas, dan lembaga lain di seluruh negeri, yang mengandalkan dana federal untuk segala hal, mulai dari penelitian ilmiah, layanan sosial hingga proyek-proyek transportasi umum.
Para analis di lembaga nirlaba Transportation for America memperkirakan lebih dari US$20 miliar dalam bentuk hibah federal di sektor transportasi saja bisa berisiko dibatalkan. Pasalnya pemerintah menentang langkah-langkah perubahan iklim dan keadilan sosial sebagai alasan untuk memangkas pengeluaran. Ini bisa berarti, ratusan proyek jalan dan angkutan umum di seluruh negeri dihentikan atau ditunda.
"Pemerintah federal adalah bagian penting dari ekonomi AS. Jika Anda memotong sebagian besar anggarannya, maka akan menimbulkan efek berantai," ujar Martha Gimbel, Direktur Eksekutif Budget Lab di Yale. "Bahkan jika Anda melakukan semua hal ini dengan cara memberi masyarakat waktu untuk menyesuaikan diri, tetap saja akan sangat menyakitkan."
Rasa sakit itu bisa menimbulkan konsekuensi politik bagi seorang presiden yang kembali berkuasa dengan janji kemakmuran, bukan penghematan — dan yang telah lama merebut kendali partainya dari para pengkritik defisit.
Trump mengatakan dia hanya ingin membasmi pembayaran yang tidak tepat dalam program-program hak. Pada Senin, Musk mengidentifikasi "penipuan yang meluas" di Jaminan Sosial sebagai target potensial untuk dipangkas.
"Ada banyak sekali penipuan," kata Musk dalam wawancara dengan Larry Kudlow dari Fox Business, mengklaim tanpa bukti bahwa DOGE telah menemukan bukti ada orang-orang yang secara ilegal mengklaim tunjangan Jaminan Sosial dan pinjaman dari Small Business Administration, di antara yang lainnya. "Jumlahnya diperkirakan sekitar 10% dari belanja federal, yaitu setengah triliun dolar."
Musk menggambarkan agendanya sebagai tindakan kehati-hatian keuangan bagi negara dengan tumpukan utang sebesar US$36,5 triliun, yang disertai dengan tagihan bunga tahunan yang menyaingi anggaran Pentagon.
"Ini bukan hal opsional. Inilah hal yang penting. Itulah alasan saya di sini," kata Musk pada rapat kabinet 26 Februari, di mana ia menyatakan tujuan untuk mengidentifikasi pemotongan belanja sebesar US$4 miliar per hari, mulai sekarang hingga September. "Jika kita tidak melakukan ini, AS akan bangkrut."
Hal ini juga mencerminkan penghinaan yang mendalam dan telah lama membara pada pemerintah yang melampaui regulator pengawas perusahaannya. Musk sudah menyiratkan bahwa pekerja federal tidak produktif dan menyarankan sektor publik agar tidak dimasukkan dalam indikator ekonomi.
Ia baru-baru ini mengecam John Maynard Keynes sebagai "kejahatan besar," yang 'menghina' kepercayaan ekonom tersebut pada pemerintah sebagai kekuatan penstabil bagi ekonomi. Yang sering kali luput dari pernyataannya ialah bagaimana perusahaannya memperoleh keuntungan dari pinjaman dan kontrak pemerintah.
Rencana Musk untuk berhemat muncul saat Partai Republik di Kongres mengusulkan RUU Pajak, yang mencakup pemotongan anggaran sebesar US$2 triliun selama 10 tahun, sambil tetap meningkatkan defisit. Untuk memenuhi targetnya, kemungkinan besar akan melibatkan pemangkasan anggaran yang sudah disahkan Kongres, yang merupakan wewenangnya berdasarkan Konstitusi AS.
Para penentang berpendapat bahwa hal itu ilegal dan tuntutan hukum juga telah menimbulkan pertanyaan tentang konstitusionalitas pemangkasan program oleh Musk.
Risiko dari era baru penghematan yang membayangi telah menarik perhatian para investor terkemuka, seperti pendiri miliarder Point72 Asset Management, Steven Cohen. "Apa pun pendapat Anda tentang masalah DOGE, itulah penghematan," katanya pada konferensi bulan lalu. Penghematan "pasti berdampak negatif pada perekonomian."
Menurut Bloomberg Economics, jika pengurangan anggaran belanja federal sebesar US$1 triliun berdampak pada perekonomian tahun ini, hal ini akan menjerumuskan AS ke dalam resesi, di mana PDB menyusut setiap kuartal dan perekonomian mengakhiri tahun ini 3,3% lebih kecil dari yang diperkirakan.
Anna Wong, Kepala Ekonom AS, menilai hal ini juga akan mengakibatkan peningkatan pengangguran sebesar 1,5 poin persentase yang akan membawa tingkat pengangguran menjadi 5,7% pada akhir tahun. Kabar baik bagi Partai Republik, mungkin, bahwa dalam skenario ini "pertumbuhan akan mengalami rebound yang kuat" tahun depan, tepat pada waktunya untuk pemilihan paruh waktu.
Bloomberg Economics tidak memperhitungkan kebijakan lain yang bisa menghambat ekonomi, seperti tarif atau tindakan keras imigrasi. (Mereka juga tidak memperhitungkan potensi dampak positif yang menurut pemerintahan Trump akan datang dari pemotongan pajak dan deregulasi).
Kecepatan pemangkan adalah salah satu alasan mengapa dampaknya akan begitu drastis.
Robert Pollin, ekonom dari University of Massachusetts yang mempelajari upaya penghematan pemerintah, mengatakan, target utama Musk menyiratkan pemotongan belanja satu tahun sebesar 3% dari PDB.
Bahkan pada puncak kampanye penghematan Thatcher, yang memicu krisis ekonomi di Inggris sebelum kebangkitan kaum konservatif merayakannya, pemotongan belanja pemerintah Inggris setara dengan satu poin persentase PDB per tahun.
Pengurangan belanja sebesar yang diusulkan Musk juga hanya memiliki sedikit preseden dalam sejarah AS modern. Satu-satunya kemunduran yang lebih besar ialah setelah Perang Dunia II dan pada tahun 2022, ketika ada kemunduran dari belanja stimulus pandemi yang diawasi Trump dan Joe Biden pada tahun 2020 dan 2021.
"Kita akan berada di wilayah yang benar-benar baru," kata Pollin tentang rencana Musk.
Tentu saja, meski gugatan hukum tak menghalangi rencananya, Musk mungkin akan gagal dalam upayanya untuk memotong anggaran sebesar US$1 triliun. Hal ini membuat para ekonom dan investor obligasi meremehkan target ambisius Musk.
Menurut temuan Bloomberg Economics, bahkan jika ia hanya berhasil sebagian, akan ada dampak ekonomi yang terjadi. Pemangkasan belanja sekitar US$100 miliar akan mengurangi 0,3% PDB AS tahun ini.
Dampaknya kemungkinan besar akan terasa secara luas dalam perekonomian, di mana belanja federal menyumbang sekitar sepertiga dari anggaran negara bagian.
Hal ini juga mungkin akan memukul pada pendukung Trump sendiri. Thatcher memenangkan Pemilu setelah mengeluarkan gerakan penghematan, tetapi bukan berarti GOP bisa melakukan hal yang sama.
Menurut Andrew Reamer, pakar kebijakan publik dari Universitas George Washington, 30 dari 31 negara bagian yang dimenangkan Trump pada November menerima lebih banyak pendapatan federal daripada yang mereka kembalikan ke Washington dalam bentuk pajak.
Dalam unggahannya baru-baru ini, Reamer menulis, "anggaran negara bagian yang memilih Donald Trump pada tahun 2024 lebih rentan terhadap pemotongan bantuan federal dibandingkan anggaran negara bagian yang memilih Kamala Harris."
(bbn)




























