Logo Bloomberg Technoz

Katrin juga berbagi kisah tentang bagaimana bisnis berbasis syariah dapat membantu menghindari praktik bisnis yang merugikan konsumen. Ia menyoroti banyaknya kasus penipuan dalam bisnis travel umrah dan haji yang terjadi karena minimnya pemahaman terhadap aturan Islam. “Ternyata e-commerce itu kita harus punya barangnya dulu. Kalau kita belum punya barangnya, kita jual, itu enggak bisa,” jelasnya. Dalam bisnis travelnya, ia memastikan semua layanan yang ditawarkan sudah dibayar di muka agar tidak ada ketidakjelasan dalam transaksi.

Ilustrasi ⁠Strategi Bisnis Rasulullah & Keuangan Syariah Kekinian (Envato/Diolah)

Selain menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara duniawi dan akhirat. Menurutnya, meskipun bisnis adalah bagian dari kehidupan, ibadah tetap harus menjadi prioritas utama. “Kita sekarang tuh ibadahnya sangat gampang ya, setan-setan lagi dikunci. Jadi kalau masih juga mengejar duniawi ini, enggak tahu lagi kapan ya,” ujarnya dengan nada reflektif.

Katrin menutup diskusi dengan pesan bahwa membangun bisnis syariah bukan hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga tentang menjalankan kehidupan dengan penuh keberkahan. “Pada intinya, bisnis apapun ya, bukan harus ada di umrah tapi di manapun, kita harus balik lagi ke ajaran Rasulullah. Jika amanah, jangan berkhianat. Jika berkata, jangan berdusta. Jika kau berjanji, tepatilah,” tegasnya.

Jangan lewatkan episode terbaru Bloomberg Technoz Podcast - Ramadan Spark bersama Kode Marketing untuk mendapatkan wawasan lebih dalam mengenai strategi bisnis syariah dan bagaimana ekonomi Islam dapat menjadi solusi modern yang inklusif dan berkelanjutan. Saksikan hanya di www.bloombergtechnoz.com


(btp)

No more pages