Logo Bloomberg Technoz

Baja adalah tulang punggung ekonomi global. Hampir semua negara besar berambisi memiliki industri baja sendiri, dan karena kaitannya yang erat dengan politik, sektor ini telah berulang kali menjadi sasaran proteksionisme sejak abad ke-19.

Bagi Trump dan pemimpin dunia lainnya, industri baja tetap menjadi simbol kekuatan manufaktur. Tarif 25% yang ia terapkan untuk baja dan aluminium mulai berlaku pada Rabu (12/03/2025). Meski detail lengkap kebijakan ini masih belum jelas, langkah tersebut memperkuat kebijakan perdagangan yang ia terapkan sejak masa jabatan pertamanya. Kebijakan ini juga menghapus berbagai pengecualian bagi negara-negara tertentu serta memperluas cakupan produk yang dikenai tarif.

Baru kali ini proteksi perdagangan baja diterapkan secara luas sejak 2015-2016. Kebijakan ini berisiko meningkatkan harga produksi kendaraan hingga infrastruktur, menyebabkan gangguan ekonomi, serta berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja di sektor yang bergantung pada baja. Jika sebelumnya pembatasan hanya ditargetkan pada kelompok tertentu, kali ini kebijakan mencakup cakupan lebih luas dan mempengaruhi jalur perdagangan utama.

Para produsen baja khawatir kebijakan ini akan mendorong kelebihan pasokan global, terutama dari China, masuk ke pasar lain yang sudah kelebihan suplai.

Negara-negara yang mengirim baja ke AS. (Sumber: Bloomberg)

Kondisi ini menjadi perhatian bagi industri baja Eropa. Saat Trump pertama kali menerapkan kebijakan proteksi perdagangan, data Eurofer (asosiasi produsen baja UE) menunjukkan bahwa dari setiap tiga ton baja yang gagal masuk ke AS, dua ton akhirnya masuk ke pasar Eropa.

"Sebanyak 18 juta ton baja yang saat ini masuk ke AS dengan pengecualian tarif harus mencari pasar lain. Mereka akan mencari pasar terbuka, dan itu adalah Uni Eropa," kata Direktur Jenderal Eurofer, Axel Eggert, di Brussels pekan lalu.

Waktu yang Buruk

Trump berargumen bahwa kelebihan produksi baja China membanjiri pasar global, memaksa negara lain untuk mencari pasar baru, termasuk AS. Ia juga menuding Brasil, Meksiko, dan Argentina sebagai penyebab memburuknya situasi perdagangan baja global.

Industri baja China berkembang pesat dalam dua dekade pertama abad ini untuk mendukung pembangunan kota-kota besar dan ekspansi sektor manufaktur. Namun, dalam lima tahun terakhir, permintaan domestik melemah akibat pandemi dan krisis properti, sementara produksi tetap bertahan di atas 1 miliar ton per tahun, mendorong lonjakan ekspor.

Lonjakan ekspor ini telah memicu respons keras dari negara-negara mitra dagang China, yang kini mempertimbangkan langkah proteksi lebih lanjut.

Vietnam dan Korea Selatan, dua negara importir baja China terbesar sekaligus eksportir utama, telah menetapkan tarif pada hot-rolled coil—produk baja yang banyak digunakan dalam perdagangan global. Taiwan telah meluncurkan penyelidikan antidumping, sementara otoritas perdagangan India merekomendasikan tarif luas terhadap baja impor.

"Produsen baja Thailand akan menghadapi tantangan lebih berat. Kami sudah kesulitan menghadapi banjir baja China, meskipun ada beberapa kebijakan antidumping dari pemerintah untuk melindungi produsen lokal," ujar Petrung Maesincee, Presiden Asosiasi Baja Thailand.

"Kekhawatiran lainnya adalah tarif terhadap produk baja dari negara lain bisa membuat negara selain China juga membuang produknya ke Thailand. Kami sudah melihat lonjakan impor baja dari Vietnam."

Sementara itu, Uni Eropa sedang meninjau kembali kebijakan kontrol impornya setelah mengalami peningkatan impor dari negara-negara yang sebelumnya bukan pemasok utama.

Menurut Shanghai Metals Market, sebuah lembaga riset China, lebih dari 30 juta ton baja China telah menjadi target penyelidikan antidumping per akhir Februari—setara dengan lebih dari seperempat ekspor baja China tahun lalu.

China telah menghadapi berbagai hambatan ekspor sebelumnya dengan mengalihkan produksi ke jenis baja lain atau mencari pasar baru, kata Gutierrez dari Kallanish. Jika strategi itu tidak berhasil kali ini, industri baja domestik China bisa terpukul berat.

"Risikonya adalah ketika pembatasan perdagangan semakin ketat hingga mencapai titik kritis," ujarnya.

Sepanjang 2024, lebih dari 30 kasus antidumping baru terhadap baja telah dilaporkan, menurut China Metallurgical Industry Planning and Research Institute, sebuah lembaga riset terkait pemerintah. Lembaga ini memperingatkan bahwa situasi bagi ekspor baja China akan semakin sulit.

Konsultan komoditas CRU Group memperkirakan ekspor baja China bisa turun hingga 17% tahun ini akibat tekanan global.

Tekanan ini juga semakin memaksa industri baja China untuk mengendalikan kelebihan produksi. Dalam pertemuan legislatif tahunan di Beijing pekan lalu, pemerintah China berjanji akan mengurangi kapasitas berlebih di sektor baja dan industri lainnya—hampir satu dekade setelah kebijakan reformasi penawaran terakhir mereka.

Kali ini, dukungan stimulus dari negara tampak lebih terbatas dibanding reformasi sebelumnya. Namun, ekonomi China kini juga lebih matang dan tidak lagi terlalu bergantung pada baja. Dengan kebijakan tarif AS yang agresif, China mungkin akan menghadapi dampak yang selama ini dihindarinya—dan inilah yang diinginkan oleh Trump serta para pendukungnya.

(bbn)

No more pages