Serbuan pemodal pada Treasury terutama tenor pendek, diperbesar oleh dorongan bahwa akan ada pelonggaran moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve, bank sentral AS, demi menjaga ekonomi agar tak kian memburuk.
"Baru beberapa minggu lalu kami menerima pertanyaan tentang apakah kami berpikir bahwa ekonomi AS akan kembali mengalami percepatan, dan sekarang tiba-tiba kata 'R' [resesi] tersebut muncul berulang kali," kata Gennadiy Goldberg, Kepala Strategi Suku Bunga TD Securities. "Pasar telah berubah dari kegembiraan akan pertumbuhan menjadi keputusasaan total," katanya, dilansir dari Bloomberg News.
Pergerakan Treasury tersebut menanda perubahan mendadak bagi pasar, di mana pendorong utama dalam beberapa tahun terakhir adalah ketahanan ekonomi AS yang mengejutkan di kala ekonomi global cenderung lesu.
Para pemodal semula menilai, hasil Pemilu AS pada November lalu akan memperkuat tren tersebut sehingga mendorong imbal hasil semakin naik pada akhir tahun lalu, sebagai antisipasi akan terjadinya pertumbuhan lebih cepat serta inflasi, sebagai tren pasar yang dikenal sebagai 'Trump Trade'.
Sejak pertengahan Februari, yield Treasury terus meluncur turun sejurus karena kebijakan pemerintahan baru menimbulkan ketidakpastian yang signifikan terhadap prospek. Penurunan itu terutama karena dicatat oleh UST tenor pendek yang mempertajam kurva imbal hasil, di mana itu biasa terlihat ketika investor memposisikan diri untuk pelonggaran moneter ke depan.
Pendorong utama adalah perang dagang Trump yang sedang berlangsung, yang diyakini bisa memantik inflasi lagi dan mengacaukan rantai pasok global.
Alhasil, arus jual saham membesar bahkan ketika Trump menunda pemberlakuan tarif pada Meksiko dan Kanada. Langkah Pemerintah AS menahan anggaran federal dan memecat puluhan ribu pegawai juga berdampak buruk.
"Risiko resesi jelas lebih tinggi karena serangkaian kebijakan Trump, yakni tarif berlaku lebih dulu, baru nanti pemotongan pajak," kata Tracy Chen, Portfolio Manager di Global Brandywine.
Trump mengatakan pada hari Minggu lalu bahwa perekonomian AS menghadapi 'periode transisi', mengalihkan kekhawatiran atas risiko perlambatan.
Saat ditanya dalam program Sunday Morning Futures di Fox News apakah ia memperkirakan akan terjadi resesi tahun ini, Trump menghindari jawaban langsung. "Saya tidak suka memprediksi hal semacam itu. Saat ini kita berada dalam masa transisi, karena apa yang kami lakukan ini sangat besar," katanya, dikutip dari Bloomberg News.
Meskipun tidak menjawab secara eksplisit, pernyataan Trump sejalan dengan pidatonya di Kongres pekan lalu serta komentar dari sejumlah pejabat administrasi, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent. Pemerintahan Trump berargumen bahwa pemangkasan pajak dan pendapatan dari tarif akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Namun, kebijakan tarif yang berubah-ubah telah mengguncang pasar, menyebabkan aksi jual saham teknologi dan lonjakan volatilitas yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Bessent mengatakan dalam wawancara di CNBC bahwa ekonomi AS membutuhkan "detoksifikasi" untuk mengurangi ketergantungan pada belanja publik. Sementara itu, para pelaku pasar obligasi semakin khawatir bahwa ekonomi AS akan melambat.
Trump sudah mengisyaratkan adanya "periode penyesuaian" dalam pidatonya di Kongres pada 4 Maret lalu. "Akan ada sedikit gangguan, tapi kami baik-baik saja dengan itu," ujarnya. "Tidak akan terlalu besar."
(rui)





























