Logo Bloomberg Technoz

“Namun, [aktivitas produksi PT GNI] ini akan normal lagi April. Nah, selama masa transisi ini, dilakukan untuk pengembangan kapasitas karyawan. Ini insyallah akan normal lagi pada April 2025,” tegas Setia.

“Jadi pure sebenarnya masalah itu bukan kenapa-kenapa, bukan tidak kondusif, bukan apa-apa. Bukan karena relaksasi segala macam, bukan. Namun, memang karena adanya manajemen yang baru sekarang ini lebih selektif intinya untuk pemilihan raw material.

Tak Ada PHK

Setia juga menegaskan PT GNI telah menemui pihak Kemenperin untuk menjelaskan duduk permasalahan tersebut. Perusahaan, kata Setia, berkomitmen untuk tidak melakukan pemangkasan gaji karyawan maupun kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dia juga membantah kabar bahwa PT GNI menunda pembayaran ke pemasok bijih nikelnya akibat masalah keuangan, sehingga perusahaan tersebut mengalami gangguan produksi.

“Sebenarnya bukan menunda ya. Akan tetapi, isunya memang manajemen lama dan manajemen baru ini berbeda opini terhadap [pemilihan pemasok] raw material ini.”

Manajemen lama PT GNI, sebut Setia, sudah berkontrak dengan pemasok bijih nikel. Akan tetapi, bijih tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh manajemen yang baru.

“Jadi sebenarnya bukan tidak membayar, tetapi [manajemen yang baru] ingin memastikan bahwa seharusnya raw material yang diterima itu sesuai dengan spek yang mereka inginkan,” terang Setia.

“Itu akar permasalahannya. Jadi bukan tidak membayar. Memang manajemen yang baru memilih untuk material yang baru, yang mereka targetkan selesai Juli nanti lah itu.”

Smelter nikel milik PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara./dok. GNI

Pendanaan Baru

Lebih lanjut, Setia juga membeberkan bahwa PT GNI akan mendapatkan sumber pendanaan baru menyusul pergantian manajemen tersebut. Kesepakatan dan mekanisme pendanaan tersebut diharapkan rampung pada Juli 2025.

Namun, dia tidak mengonfirmasi apakah pendanaan atau investor baru tersebut berarti PT GNI sudah tidak lagi berada di bawah Jiangsu Delong dari China.

“Ini sedang kami konversi, tetapi yang jelas bisa bilang ini ada manajemen baru yang terlibat lah,” ujarnya.

Berbagai narasumber Bloomberg sebelumnya menyebut PT GNI telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya. Jika situasi berlanjut, menurut sumber-sumber tersebut, perusahaan kemungkinan akan segera menghentikan produksinya.

Gunbuster, yang mampu mengolah 1,8 juta ton bijih kasar nikel per tahun, disebut telah menutup semua kecuali beberapa dari lebih dari 20 jalur produksinya sejak awal tahun, kata para sumber itu.

Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis PT GNI dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.

Tak hanya PT GNI, Jiangsu Delong juga menjadi investor di balik proyek hilirisasi nikel di Indonesia yang dikelola PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) di Konawe dan Sulawesi Tenggara.

Kemenko Perekonomian sebelumnya melaporkan OSS, VDNI, dan GNI secara kumulatif telah menggelontorkan investasi senilai US$8 miliar, dengan penyerapan tenaga kerja lebih kurang 27.000 orang.

Dalam sebuah pernyataan tertulis, manajemen PT GNI pada akhir Februari mengatakan perusahaan memang sedang menghadapi masa transisi.

Perusahaan pun mengaku menyadari ada kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan oleh karyawan dan pemangku kepentingan.

"Kami memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama proses transisi ini," papar manajemen PT GNI dalam keterangan tertulis, Selasa (25/2/2025).

Manajemen menegaskan operasional perusahaan tetap berjalan seperti biasa selama perubahan manajemen operasional yang sedang berlangsung di tengah beberapa isu yang berkembang. Langkah ini diambil guna memperkuat struktur perusahaan dalam menghadapi tantangan industri ke depan.

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(wdh)

No more pages