Wiko menegaskan minyak mentah yang berasal dari industri hulu minyak Pertamina akan diberikan seluruhnya untuk KPI. Sementara itu, minyak mentah bagian negara akan didedikasikan kepada pemerintah.
“Sisanya masih ada dari KKKS non-Pertamina yang memang harus kita dapat sepakati mungkin kesepakatan komersial agar bisa diproduksi di kilang kita.”
Butuh Impor
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengonfirmasi kilang minyak milik perseroan yang berada di bawah pengelolaan KPI masih membutuhkan suplai impor crude oil (minyak mentah) dari luar negeri, lantaran produksi minyak mentah di dalam negeri belum mencukupi untuk memenuhi permintaan bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air.
"Dengan demikian kurang lebih ada sekitar 40% kebutuhan kita untuk menambah sumber dari luar Indonesia untuk minyak mentah dan sekitar 42% untuk sumber produk dari luar Indonesia," tutur Simon.
Simon menegaskan kegiatan pengolahan minyak mentah di Kilang Pertamina Internasional akan terus tetap berjalan untuk memastikan program ketahanan dan ketersediaan energi di tengah masyarakat.
“Dengan demikian ketika kita memberikan prioritas untuk pengolahan dalam negeri, sudah barang tentu untuk ekspor kita dikurangi ataupun tidak ada karena kita pakai dalam negeri.”
Saat ini, Pertamina mengoperasikan enam kilang, yaitu; Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim.
Kapasitas terpasang pengolahan minyak mentah kumulatif di enam kilang Pertamina mencapai sebesar 1.031 MBOPD, atau sekitar 90% dari kapasitas pengolahan yang ada di Indonesia.
Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat konsumsi BBM di Indonesia mencapai 505 juta barel pada 2023. Sebanyak 49% di antaranya didominasi oleh permintaan dari sektor industri transportasi.
Mengingat tingginya kebutuhan BBM di dalam negeri, Ardhi berpendapat kilang-kilang minyak di dalam negeri membutuhkan perbaikan cepat, terlebih beberapa di antaranya mengalami kerugian akibat kecelakaan kerja atau insiden kebakaran pada rentang 2021—2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan ekspor minyak dan gas (migas) turun 31,35%, yaitu dari US$1,5 miliar menjadi US$1,05 miliar pada Januari 2025.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah 69,33% menjadi US$70,9 juta, ekspor hasil minyak turun 14,92% menjadi US$398,6 juta dan ekspor gas alam turun 30,06% menjadi US$587,4 juta.
Secara kumulatif, nilai ekspor migas Indonesia periode Januari—Desember 2024 mencapai US$264,70 miliar atau naik 2,29% dibandingkan dengan periode yang sama 2023.
(mfd/wdh)





























