Bagaimanapun, dia tidak mengelaborasi lebih jauh ihwal rencana pembentukan tim tersebut, termasuk apakah nantinya akan berada di bawah Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum) yang rencananya akan dibentuk di Kementerian ESDM.
Terkait dengan kecemasan masyarakat akibat isu Pertamax oplosan, Bahlil pun memastikan Kementerian ESDM telah menetapkan standar yang baku untuk spesifikasi research octane number (RON) terhadap setiap BBM yang diperjual-belikan di Indonesia.
“Itu sudah sesuai standar, ada RON 90 dan RON 92. Jadi kalau membeli harga yang bagus, minyak bagus, harganya juga bagus. Mau setengah-setengah, ada juga setengah-setengah. Semua sudah ada speknya itu.”
PT Pertamina Patra Niaga menyebut penjualan Pertamax sempat mengalami penurunan sebesar 5% selama sehari, di tengah isu dugaan perseroan mengoplos BBM RON 90 setara Pertalite di fasilitas penyimpanan atau depo untuk dijadikan RON 92.
Menurut Kejaksaan Agung, kasus tersebut terjadi pada rentang 2018—2023, sejalan dengan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di lingkungan subholding Pertamina.
“Penurunan [penjualan] itu hanya satu hari, pada 25 Februari [2025]. Angkanya kurang lebih 5%. Akan tetapi, kita melihat rerata [penjualan] hariannya masih sama,” kata Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Rabu (26/2/2025).
Di sisi lain, Ega menyatakan Pertamina kembali menjamin bahwa bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax RON 92 yang dijual ke masyarakat sudah sesuai spesifikasi.
Ega menjelaskan Pertamina Patra Niaga memperoleh pasokan BBM dari dua sumber utama, yaitu dari kilang dalam negeri dan dari pengadaan luar negeri.
"Kami menerima itu sudah dalam bentuk [BBM] RON 90 dan RON 92, tidak dalam bentuk produk RON lainnya. Jadi untuk Pertalite kita sudah menerima produk, baik dari kilang maupun dari luar negeri, itu adalah dalam bentuk RON 90," tutur dia.
Dia pun menegaskan bahwa tidak ada proses perubahan research octane number (RON) pada produk yang diterima oleh Pertamina Patra Niaga. Hanya saja, khusus untuk Pertamax RON 92, dilakukan penambahan aditif dan pewarna melalui proses injeksi blending.
Ega membeberkan bahwa proses blending sendiri merupakan proses yang umum dalam produksi minyak yang merupakan bahan cair. Proses blending juga bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah serta performa produk.
"Jadi base fuel RON 92 ditambahkan aditif agar ada benefit-nya, penambahan benefit untuk performa daripada produk-produk ini. Dengan demikian, pada saat kita menerima itu pun, kita baik dari dalam negeri maupun luar negeri kita mempunyai lab, hasil uji lab," ucapnya.
(dov/wdh)




























