Animo asing yang masih besar di SBN membawa pergerakan harga obligasi negara terus positif. Dalam sebulan terakhir hingga data perdagangan Jumat pekan lalu (7/2/2025), tingkat imbal hasil alias yield tenor 2Y tercatat sudah turun hingga 35 basis poin ke level 6,583%, berdasarkan data Bloomberg.
Sementara tenor 5Y bahkan mencatat penurunan yield lebih besar, mencapai 39,4 basis poin dalam sebulan terakhir. Disusul oleh tenor 10Y yang mencatat penurunan imbal hasil 24,7 basis poin.
Untuk tenor SUN lebih panjang yaitu 15Y, 20Y dan 30Y, penurunan imbal hasil lebih kecil, yakni masing-masing 18,6 basis poin, lalu 10 basis poin dan 5,2 basis poin.
Sentimen bullish di pasar SBN kini membawa kepemilikan asing mencapai posisi Rp887,36 triliun sampai 6 Februari lalu, seperti data terakhir yang diumumkan Kementerian Keuangan. Itu menjadi posisi asing yang tertinggi sejak akhir Oktober tahun lalu.
Animo yang masih besar di SBN agaknya juga membantu pergerakan rupiah lebih stabil sehingga kendati sempat tertekan di awal-awal pekan, rupiah nyatanya membukukan penguatan mingguan hingga 0,98% pada pekan lalu.
Sentimen berbalik
Namun, tren bullish di pasar SBN pada pekan lalu mungkin akan bergeser pada pekan ini. Sentimen geopolitik seputar perang tarif impor AS, juga perkembangan asesmen Presiden Donald Trump terhadap Departemen Keuangan AS, sejauh ini membebani pasar surat utang global.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa inflasi AS akan kembali bangkit menyusul laporan pekerjaan pada pekan lalu yang kuat. Tingkat pengangguran AS turun jadi 4%, sementara nonfarm payrolls pada November dan Desember direvisi jadi lebih besar. Di sisi lain, pertumbuhan rata-rata upah per jam juga meningkat pada Januari lalu.
Kekhawatiran terkait perang dagang Trump juga telah mengerek ekspektasi inflasi AS jadi ke kisaran 4,3% pada bulan lalu.
Yield surat utang AS, US Treasury, pada Senin pagi terpantau bergerak naik cukup banyak, mengindikasikan ada tekanan jual yang menekan harganya.
Yield 2Y misalnya terpangkas 7,3 basis poin menjadi 4,285%. Sementara tenor 10Y turun imbal hasilnya 5,2 basis poin menjadi 4,487%.
Alhasil, yield spread atau selisih imbal hasil investasi surat utang AS dengan Indonesia jadi makin menyempit.
Posisi pada Senin pagi ini, yield spread mengecil jadi tinggal 236 basis poin, setelah sebelumnya stabil di kisaran 244 basis poin bahkan sempat mencapai 250 basis poin.
Kian kecilnya selisih imbal hasil antara UST dengan SUN, membuat pamor surat utang RI menurun karena kalah peringkat. Dana global berpotensi mengikis posisi dan mengalihkan dana ke Tresury yang berperingkat lebih bagus dengan imbal hasil menarik.
Investigasi Treasury
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tim efisiensi pemerintah Elon Musk menemukan ketidakberesan ketika memeriksa data di Departemen Keuangan AS. Ia mengisyaratkan hal itu dapat membuat AS mengabaikan beberapa pembayaran.
"Mungkin ada masalah, kami telah membacanya, dengan Departemen Keuangan," kata Trump kepada wartawan pada Minggu (10/2/2025) di pesawat Air Force One dalam perjalanan menuju Super Bowl. Tidak jelas apakah ia berbicara tentang utang pemerintah AS, atau pembayaran yang diproses melalui Departemen Keuangan.
"Itu bisa menjadi masalah yang menarik karena bisa jadi banyak dari hal-hal itu tidak masuk hitungan," katanya. "Oleh karena itu, mungkin kita memiliki lebih sedikit utang daripada yang kita kira."
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara dengan Bloomberg, mengatakan ia mendukung dolar yang kuat dan tidak berencana mengubah rencana penerbitan utang pemerintah.
Itu berkebalikan dengan pernyataan Presiden Donald Trump pada masa kampanye di mana ia mengkhawatirkan penguatan dolar AS karena membuat ekspor mereka kurang kompetitif.
"Trajectory bagus dan pemerintah AS memiliki pendanaan yang baik. Saya yakin bahwa ketika agenda presiden mulai terlihat jelas, kita akan melihat banyak pertumbuhan noninflasi dan saya pikir itu akan membantu kita mengkalibrasi seperti apa kebijakan itu nantinya. Namun, saya tidak memperkirakan ada perubahan dalam penerbitan obligasi [Treasury, surat utang AS] dalam waktu dekat," kata Bessent dalam wawancara bersama Saleha Mohsin dari Bloomberg TV.
Dengan kata lain, AS tidak memiliki rencana mendorong pelemahan dolar AS. "Kebijakan dolar yang kuat sepenuhnya sejalan dengan Presiden Trump. Kami ingin dolar menjadi kuat. Yang tidak kami inginkan adalah negara lain melemahkan mata uang mereka, memanipulasi perdagangan mereka," kata Bessent.
(rui)


























