Victor menambahkan, bukan berarti Bukalapak menutup pintu terhadap potensi akuisisi. Terlebih, jika perusahaan melihat ada target akuisisi yang potensial.
Namun, menurutnya, kondisi saat ini tengah menantang. Sehingga, perusahaan perlu berhati-hati menyerap sisa dana IPO.
"Kita lihat bersama-sama, kondisi industri secara keseluruhan sedang mengalami tantangan, baik secara nasional maupun global. Kondisi politik juga dinamis, terutama tahun lalu, yang membuat kami harus berhati-hati, terlebih dalam melihat potensi atau kondisi yang ada."
Rincian Dana IPO
Bukalapak melakukan IPO pada 2021. Saat itu, perusahaan memperolah dana segar bersih Rp21,32 triliun, menjadikannya yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia.
Sejak IPO hingga akhir Desember 2024, Bukalapak telah menggunakan dana IPO senilai Rp6,9 triliun untuk modal kerja perusahaan.
Kemudian, Rp1,14 triliun digunakan untuk modal kerja PT Buka Mitra Indonesia. Sebesar Rp16,97 miliar digunakan untuk modal kerja PT Buka Usaha Indonesia.
Sementara, untuk modal kerja PT Buka Pengadaan Indonesia menyerap Rp35,61 miliar. Untuk modal kerja Bukalapak Pte Ltd dan PT Five Jack masing-masing Rp1,05 miliar dan Rp1,26 miliar.
Bukalapak mengendapkan dana IPO di berbagai instrumen keuangan, termasuk deposito, giro, dan obligasi.
Dari instrumen tersebut, Bukalapak memperoleh pemasukan yang dicatat dalam pos pendapatan keuangan mencapai Rp783,77 miliar. Angka ini lompat 27,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Menyusul juga pencatatan pada bagian perubahan nilai wajar investasi jangka panjang yang berbalik menjadi positif mencapai Rp45,26 miliar. Padahal, pada tahun lalu pos tersebut masih merugi Rp16,08 miliar.
(dov/ros)





























