Sejak Revolusi Islam 1979, musik, instrumen musik, dan pertunjukan musik di Iran dikontrol ketat. Konser sering kali terbatas pada musik klasik Persia atau resital instrumental. Media sosial menjadi jalan utama bagi penyanyi perempuan untuk menemukan audiens dan menunjukkan bakat mereka meski berisiko ditangkap.
"Saya adalah Parastoo, seorang gadis yang ingin bernyanyi untuk orang-orang yang saya cintai," tulis Ahmadi dalam pernyataan di kanal YouTube-nya. "Ini adalah hak yang tidak bisa saya abaikan: bernyanyi untuk tanah yang saya cintai."
Ketidakpuasan Publik
Kasus Ahmadi muncul di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap Iran, baik karena masalah ekonomi maupun hukum sosial yang ketat, khususnya aturan yang memaksa perempuan untuk menutup rambut dan mengenakan pakaian panjang serta longgar di tempat umum.
Pekan lalu, parlemen Iran mengesahkan undang-undang baru yang memperberat hukuman dan denda bagi perempuan yang dianggap tidak berpakaian sesuai aturan. Langkah ini merupakan tanggapan atas pemberontakan tahun 2022, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan memprotes kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang meninggal dalam tahanan setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian.
Demonstrasi tersebut, yang ditindak secara brutal oleh aparat keamanan, menjadi kritik besar pertama terhadap aturan berpakaian perempuan sejak revolusi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dikenal reformis, mengkritik undang-undang baru ini dan mengatakan bahwa aturan tersebut berpotensi merusak "kerukunan nasional" dan perlu direvisi. Legislasi itu diusulkan oleh pendahulunya, ulama garis keras Ebrahim Raisi.
Sementara itu, Iran juga menghadapi tantangan di luar negeri. Konflik di Timur Tengah telah melemahkan milisi sekutunya, Hizbullah dan Hamas, sementara penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad akhir pekan lalu membuat Iran kehilangan sekutu penting di kawasan tersebut.
(bbn)




























