Logo Bloomberg Technoz

"Serangan konser itu membawa kembali ingatan dan perasaan ketakutan itu," kata Kolesnikov. 

Negara Islam, ISIS, mengklaim bertanggung jawab atas serangn di konser itu, sementara dalam pidato sehari setelah peristiwa itu Putin menuduh Ukraina berada di balik serangan ini. Ukraina membantah terlibat dan menyebutnya sebagai operasi yang sebenarnya dilakukan oleh Kremlin. Para pejabat Amerika Serikat menyebut ISIS merupakan satu-satunya kelompok yang bertanggung jawab. 

Bagi kebanyakan warga Rusia, skala tragedi ini mengingkatkan mereka akan serangkaian ledakan di gedung-gedung apartemen di Moskow, Vlogodonsk dan Buynaksk pada September 1999 yang menewaskan lebih dari 300 orang. Dua pertiga korban ledakan yang hingga kini belum diketahui secara pasti pelakunya adalah warga Moskow.

"Saat itu saya masih remaja dan saya masih ingat ketakutan orang tua saya dan ayah saya selalu waspada," kata Denis, warga Moskow. "Menakutkan jika keadaan seperti itu kembali terjadi."

Putin, perdana menteri baru saat itu dan belum dikenal luas masyarakat, menyalahkan kelompok separatis Chechnya sebagai pelaku dan berjanji mengakhiri gelombang teror itu. 

Dia mendapat dukungan warga Rusia dengan melakukan serangan udara di Chechnya yang kemudian menjadi invasi, sehingga wilayah itu kembali dikuasai Moskow. 

Setelah Presiden Boris Yeltsin turun pada Malam Tahun Baru, dan menunjuk Putin sebagai penggantinya, mantan mata-mata KBG itu mendapat dukungan publik terkait perang itu dan memenangkan Pemilu Presiden 2000. Ini menjadi awal kekuasaannya selama 25 tahun hingga sekarang.

Meski Putin berjanji memburu teroris dan "menghabiskan mereka," pertumpahan darah tidak berhenti. 

Militan Chechnya menyandera sekitar seribu orang di teater Nord-Ost, Moskow, pada 2002. Setidaknya 170 orang tewas, termasuk puluhan militan ketika pasukan khusus Rusia menjalankan operasi penyelamatan yang berantakan. 

Dua tahun kemudian ketika warga Rusia merayakan Hari Ilmu Pengetahuan yang merupakan awal tahun ajaran baru, kelompok Islamis menyandera lebih dari seribu anak dan orang tua di Sekolah No. 1 di kota Beslan. Lebih dari 330 tewas, sebagian besar anak-anak, dalam upaya pembebasan sandera tiga hari kemudian. 

Beberapa hari sebelumnya, dua pesawat penumpang yang mengudara selang satu jam dari bandara Domodedovi Moskow, jatuh dan diduga akibat aksi bom bunuh diri dari perempuan keluarga kaum pria yang diculik atau tewas di Chechnya.

Para perempuan ini juga diduga melakukan dua aksi bunuh diri di kereta bawah tanah Moskow pada 2010 yang menewaskan setidaknya 40 orang. Ini adalah insiden terorisme terbesar sebelum aksi di Moskow Jumat lalu. 

St. Petersburg, kota asal Putin, juga diserang lewat bom bunuh diri di kereta bawah tanah oleh kelompok ekstrimis Islamis yang menewaskan 16 orang pada 2017 ketika Presiden Rusia itu berkunjung. 

Setelah Putin mengirim tentara ke wilayah Suriah pada 2015 untuk mendukung rezim Presiden Bashar al Assad dalam perang saudara di sana, ISIS mengancam akan menyerang Rusia. 

Kelompok ini mengklaim bertanggung jawab atas kejatuhan pesawat yang membawa wisatawan Rusia dari Mesir ke St. Peterburgh. Insiden Oktober ini menewaskan 224 orang yang berada di dalam pesawat itu. 

Putin menyalahkan Chechnya melalui kekuatan dan aliansi dengan salah satu kepala kelompok bersenjata di Chechnya dan ayah dari penguasa wilayah itu sekarang. Ramzan Kadyrov, memisahkan diri dari kaum separatis dan beraliansi dengan Moskow. Kadyrov yang memiliki pasukan sendiri sekarang merupakan sekutu terdekat Putin dan mengirim tentaranya dalam invasi ke Ukraina tahun 2020. 

Meski ISIS mengatakan bertanggung jawab atas serangan di Moskos ini, banyak warga Rusia mengatakan perang di Ukraina membuat situasi menjadi kembali tidak aman. Mereka tidak secara langsung menyebut aksi Putin di Ukraina.

Bagi warga Rusia, serangan itu menghilangkan ilusi kehidupan normal di ibu kota selama perang Ukraina yang diciptakan oleh Putin. Tiga hari sebelum serangan, dia secara terbuka mengesampingkan peringatan AS terkait ancaman serangan teroris dan menyebutnya sebagai upaya Barat "mengintimidasi dan mendestabilisi masyarakat kita."

"Serangan di Crocus mengingatkan saya akan ledakan-ledakan rumah di Rusia dan warga pun takut untuk tidur," kata Valeriy, yang tinggal di dekat Moskow. Dia segera membawa anaknya keluar dari ibu kota pada Jumat malam. 

"Serangan-serangan teroris di kereta bawah tanah dan di jalanan telah kembali. Ini semua karena perang," ujarnya. "Situasinya semakin memburuk. Rusia sekarang tidak aman."

"Kita semua mendengar tentang Belgorod, warga tewas di sana, tapi itu jauh letaknya," kata Elizaveta, merujuk ke kawasan perbatasan Rusia yang berulang kali mendapat serangan akibat perang. "Sekarang, rasanya perang sudah masuk ke Moskow."

Dia takut Kremlin mempergunakan serangan itu untuk membenarkan mobilisasi wajib militer bagi pria muda--seperti anaknya yang masih mahasiswa--untuk berperang di garis depan. Dia juga khawatir operasi penangkapan terhadap mereka yang menyuarakan kritik pada pemerintah akan meningkat.

Situasi ini "memperlihatkan bahwa kualitas pasukan keamanan di bawah Putin sangat menurun dalam 20 tahun terakhir," kata Vladislav Inozemtsev, kepala Pusat Studi Pasca-Industri di Moscow. 

Dia mengatakan belakangan ini badan keamanan telalu memusatkan perhatian pada aksi protes dan menangkap orang yang menentang pemerintah, bukan pada ancaman terhadap keamanan warga.

Rusia memberlakukan hari berkabung nasional pada Minggu (24/3/2024). Pusat belanja dan teater di Moskow serta beberapa wilayah tutup setelah serangan Crocus itu, sementara keamanan di bandara dan stasiun kereta diperketat.

Perusahaan pengelola sejumlah gedung apartemen besar meminta warga waspada dan hati-hati pada orang asing. 

"Harapan perang selesai hilang sudah," kata Anastasia. "Situasinya kini memburuk."

Rasa takut ini bertolak belakang dengan rasa optimistis yang ingin diciptakan oleh Kremlin terkait 87% suara yang didapat Putin dalam Pilpres seminggu lalu. 

Kremlin menyebut hasil Pilpres ini bukti bahwa warga Rusia bersatu mendukung Putin terkait perang di Ukraina dan konfrontasi dengan Barat. 

Putin mencoba mengalihkan perhatian ke Ukraina karena "kecerobohannya menyebabkan serangan teroris tidak terlacak," kata Kolesnikov. 

Meski demikian, ujarnya, warga Rusia lelah dengan perang, sehingga sepanjang Putin tidak mengumumkan mobilisasi pria muda untuk berperang setelah serangan di Crocus ini, masyarakat kemungkinan akan bisa mengatasi rasa terkejut soal kekerasan kelompok militan.

(bbn)

No more pages