Kim menilai perusahaan AI saat ini masih menawarkan harga relatif murah karena sebagian besar perusahaan teknologi tersebut belum menghasilkan keuntungan dan menggunakan harga rendah sebagai strategi pemasaran.
Dia juga membandingkan biaya produksi berbasis AI dengan perubahan industri perfilman dari penggunaan seluloid menuju kamera digital.
Pada era seluloid, setiap pengambilan gambar membutuhkan biaya tambahan karena penggunaan stok film. Kondisi tersebut membuat proses praproduksi harus direncanakan secara matang. Sementara itu, teknologi digital memungkinkan kru mengambil dan mengedit gambar secara lebih leluasa tanpa tambahan biaya material untuk setiap pengambilan gambar.
Namun, produksi berbasis AI memiliki tantangan berbeda. Setiap perubahan atau pembuatan ulang gambar (re-render) membutuhkan penggunaan token tambahan yang kembali menimbulkan biaya.
Kim mencontohkan, apabila klien memberikan 10 revisi sekaligus, studio dapat menggabungkan seluruh perubahan tersebut dalam satu kali proses pembuatan ulang. Namun, apabila revisi diberikan satu per satu selama 10 hari, studio harus melakukan proses re-render sebanyak 10 kali.
Dengan demikian, jumlah putaran revisi menjadi salah satu faktor yang menentukan besarnya anggaran produksi film berbasis AI.
"Jika tahap praproduksi tidak dibuat matang, saya pikir AI justru bisa menghabiskan lebih banyak uang dibandingkan era film 35mm," ujar Kim.
Produksi Film AI Masih Hadapi Tantangan
Kepala AI Content Lab MBC C&I, Lee Sang-wook, juga menyoroti tantangan penggunaan teknologi AI dalam produksi film. Menurut dia, perencanaan anggaran menjadi lebih sulit karena teknologi AI berkembang sangat cepat dan perangkat baru terus bermunculan.
Lee mencontohkan produksi film AI berjudul Raphael yang memiliki durasi 139 menit. Proses pengerjaan film tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun empat bulan. Namun, perkembangan teknologi yang berlangsung setiap pekan membuat hasil produksi dengan perangkat lama berpotensi terlihat tertinggal.
Dia menyebut satu pengambilan gambar dalam film tersebut terkadang membutuhkan sekitar 10 seniman AI yang bekerja sepanjang hari.
Film Raphael dijadwalkan tayang di bioskop Korea Selatan pada 25 November 2026. Proyek tersebut menjadi salah satu upaya industri untuk memperkenalkan film berbasis AI langsung kepada penonton bioskop.
Di sisi lain, Kim menilai penggunaan AI dalam produksi iklan justru telah menunjukkan efisiensi biaya yang signifikan.
Dia mencontohkan iklan Pizza Hut yang ditayangkan di televisi tahun lalu. Produksi iklan tersebut membutuhkan waktu sekitar delapan bulan dengan biaya KRW2 miliar atau sekitar Rp26,56 miliar.
Sementara itu, versi iklan yang diproduksi Studio Meta-K secara internal menggunakan AI hanya membutuhkan waktu sekitar dua pekan dengan biaya KRW30 juta atau sekitar Rp398,34 juta. Biaya tersebut setara dengan sekitar 2% dari anggaran produksi iklan sebelumnya.
Meski demikian, Kim menilai penggunaan AI sepenuhnya untuk film dan serial televisi masih menghadapi tantangan dari sisi penerimaan penonton. Dia lebih memilih pendekatan produksi hibrida yang menggabungkan aktor manusia dengan teknologi AI.
Dalam pendekatan tersebut, AI dapat digunakan untuk menghasilkan adegan yang membutuhkan ratusan pemeran tambahan, lengkap dengan kostum, tata rambut, dan riasan. Sementara itu, adegan yang membutuhkan ekspresi emosional pemeran utama tetap direkam secara langsung.
Perubahan teknologi ini juga diperkirakan memengaruhi kebutuhan tenaga kerja industri perfilman. Kim menilai pekerjaan seperti operator drone dan kru pembangunan set produksi berpotensi semakin berkurang seiring meningkatnya penggunaan AI.
Namun, Lee memperkirakan perkembangan teknologi tersebut juga akan melahirkan jenis pekerjaan baru, termasuk seniman previsualization yang bertugas menerjemahkan naskah ke dalam gambaran visual sebelum produksi serta pengawas kontinuitas untuk menjaga konsistensi lokasi dan karakter.
Keduanya menilai teknologi AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam industri perfilman. Kemampuan artistik, pemahaman bahasa sinema, serta kreativitas manusia dinilai tetap menjadi faktor penting yang menentukan kualitas akhir sebuah film.
(fik/ell)



























