Menurut dia, pemerintah memutuskan melanjutkan program stimulus transportasi setelah mengevaluasi pelaksanaan pada tahun sebelumnya. Dradjad mengklaim program tersebut memberikan dampak positif terhadap mobilitas masyarakat serta aktivitas perekonomian, baik di tingkat nasional maupun daerah
"Kita lanjutkan dari tahun lalu karena terbukti juga memberikan dampak yang sangat bagus bagi mobilitas masyarakat, maupun bagi ekonomi nasional dan juga ekonomi di daerah," katanya.
Sebagai gambaran, pada periode Nataru 2025/2026, pemerintah juga menyalurkan stimulus transportasi melalui sejumlah operator angkutan umum. Insentif tersebut mencakup diskon tarif kereta api, kapal laut, angkutan penyeberangan, hingga insentif pajak untuk tiket pesawat.
Program tersebut kembali dilanjutkan pada akhir tahun ini dengan anggaran yang lebih besar. Namun, pernyataan pemerintah mengenai manfaat stimulus pada periode sebelumnya belum disertai rincian kuantitatif mengenai kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam paparan tersebut.
Di sisi lain, pemerintah memperkirakan jumlah masyarakat yang melakukan perjalanan selama periode Nataru 2026/2027 mencapai sekitar 120 juta orang. Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan angka tersebut meningkat dibandingkan pergerakan masyarakat pada periode sebelumnya, yakni sekitar 104 juta orang pada 2024 dan 110 juta orang pada 2025.
"2024, sekitar 104 juta masyarakat yang melaksanakan kegiatan pulang atau ke kampung halaman dan ke tempat wisata. Karena tahun 2025 itu naik 110. Nah sekarang di 2026-2027 diperkirakan hasil survei kita ada sekitar 120 juta masyarakat yang akan melaksanakan pulang kampung dalam rangka Nataru dan pergerakan ke tempat-tempat wisata," ujar Suntana dalam kesempatan yang sama.
(fik/wep)



























