Jenis tanaman yang dibudidayakan cukup beragam, mulai dari sayuran seperti pakcoy, kangkung, bayam, tomat, dan brokoli, hingga tanaman umbi berupa ubi jalar. Warga juga menanam berbagai buah-buahan, antara lain jeruk, jambu, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang.
Selain komoditas pangan, area tersebut dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman herbal dan rempah. Beberapa di antaranya adalah pandan, serai, kunyit, jahe, dan lidah buaya.
Hasil panen dari kegiatan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Sebagian hasil budi daya juga digunakan untuk mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Posyandu dan masyarakat lanjut usia.
Pemanfaatan hasil pertanian secara langsung tersebut membuat kegiatan urban farming memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Keberadaan kebun produktif tidak hanya membantu menyediakan bahan pangan, tetapi juga mendukung kebutuhan gizi masyarakat di lingkungan sekitar.
BRI Perkuat Sarana dan Pemberdayaan Masyarakat
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan pertanian perkotaan, BRI Peduli turut menyalurkan bantuan sarana dan perlengkapan budi daya kepada kelompok masyarakat di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar.
Pada 2025, bantuan yang diberikan mencakup 16 jenis kebutuhan, mulai dari perlengkapan pengelolaan kebun, media tanam, pembibitan, hingga pengembangan vertical garden. Dukungan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan secara lebih produktif.
Pengembangan program kemudian berlanjut pada 2026 melalui penambahan 28 jenis sarana dan perlengkapan. Bantuan tersebut tidak hanya berfokus pada kegiatan bercocok tanam, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah dan pengembangan pertanian terpadu.
Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah budidaya ikan melalui sistem budikdamber atau budi daya ikan dalam ember. Masyarakat juga mendapatkan dukungan untuk mengembangkan budi daya ikan lele sebagai bagian dari diversifikasi sumber pangan.
Lurah Pajajaran Paridin mengapresiasi dukungan BRI terhadap masyarakat di wilayahnya. Menurutnya, pemanfaatan lahan kosong melalui urban farming dapat mengubah area yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial.
“Urban farming menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan lahan kosong agar lebih produktif. Kami sangat senang karena manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang tambahan penghasilan dan usaha sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Kami berharap sinergi yang sudah terbangun dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Pengelolaan kebun secara bersama-sama juga mendorong keterlibatan warga dalam berbagai aktivitas produktif. Melalui Kelompok Wanita Tani, masyarakat memiliki ruang untuk berkolaborasi, mengembangkan keterampilan, serta mengelola hasil pertanian agar memberikan nilai tambah.
Pendekatan berbasis komunitas tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Keterlibatan masyarakat sejak proses penanaman hingga pemanfaatan hasil panen diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap fasilitas yang telah dikembangkan.
Jurnalis Melihat Langsung Dampak Urban Farming
Kegiatan Fellowship Journalism Menanam juga memberikan kesempatan kepada para jurnalis untuk memahami pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat secara langsung. Mereka tidak hanya memperoleh informasi melalui paparan dan data, tetapi juga menyaksikan proses pengelolaan kebun serta berinteraksi dengan warga penerima manfaat.
Salah satu peserta BRI Fellowship Journalism 2026, Sylviani Salsabila Putri dari Kabar Cirebon, menilai pengalaman tersebut memberikan perspektif berbeda dalam memahami program urban farming.
Menurutnya, keterlibatan langsung di lapangan membantu jurnalis memperoleh konteks yang lebih lengkap mengenai proses pelaksanaan program dan manfaatnya bagi masyarakat.
“Biasanya kami menerima informasi dari data, paparan, atau materi yang sudah disiapkan. Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, BRInita merupakan salah satu implementasi TJSL BRI Peduli yang mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan melalui optimalisasi lahan perkotaan.
Melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam, BRI juga ingin memperlihatkan bagaimana program tersebut dijalankan dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Proses mulai dari penanaman hingga pemanenan menjadi bagian dari aktivitas yang memberikan manfaat langsung bagi warga.
“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.
Dhanny menambahkan, pengembangan BRInita tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan. Program tersebut juga diarahkan untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui penambahan ruang hijau dan pengolahan sampah organik menjadi produk yang bermanfaat.
Sampah organik dari aktivitas masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pupuk dan eco enzyme. Pendekatan tersebut mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih terintegrasi sekaligus mengurangi limbah yang berpotensi mencemari kawasan permukiman.
BRInita Jangkau 16 Provinsi, Hasilkan 31,7 Ton Pangan
Sejak mulai dijalankan pada 2021, BRInita telah berkembang menjadi program pemberdayaan masyarakat yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Hingga periode 2021-2026, program ini telah dikembangkan di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi.
Dari sisi penerima manfaat, BRInita telah menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung. Capaian tersebut menunjukkan perluasan dampak program, baik terhadap kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan budi daya maupun lingkungan sosial di sekitarnya.
Kontribusi program juga terlihat dari hasil produksi pertanian dan perikanan. Sepanjang periode tersebut, BRInita menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah serta 4,7 ton hasil perikanan.
Selain menghasilkan komoditas pangan, kelompok penerima manfaat turut mengembangkan kegiatan pengolahan hasil budi daya. Tercatat sebanyak 70 produk olahan turunan telah dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil produksi.
Dari aktivitas ekonomi tersebut, pendapatan kelompok tercatat mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan. Program ini juga telah menyelenggarakan 62 sesi pelatihan yang mencakup materi urban farming, pengelolaan sampah organik, hingga pengembangan produk.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan masyarakat agar tidak hanya mampu menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga mengembangkan peluang usaha berbasis potensi lokal.
Pada aspek lingkungan, BRInita telah menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan total luas sekitar 4.000 meter persegi. Keberadaan ruang hijau tersebut turut mendukung peningkatan kualitas lingkungan di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan terbuka.
Program ini juga mencatat pengolahan 4,7 ton limbah organik dan menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair. Selain itu, aktivitas BRInita menghasilkan efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kilogram CO2-eq.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa urban farming dapat dikembangkan sebagai pendekatan yang mengintegrasikan aspek pangan, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pemanfaatan lahan terbatas tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga menciptakan ruang interaksi dan aktivitas produktif bagi masyarakat.
BRI Peduli melalui BRInita turut mendukung agenda pemerintah dalam mendorong swasembada pangan dan pengembangan ekonomi hijau yang menjadi bagian dari Asta Cita. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek ketahanan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.
Ke depan, pengembangan BRInita diharapkan dapat memperluas pemanfaatan lahan perkotaan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan. Melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat, urban farming berpotensi menjadi salah satu solusi untuk menciptakan kawasan permukiman yang lebih produktif, hijau, dan berkelanjutan.
(tim)





























