"Kadang-kadang kapal sudah dikontrak, tetapi pada menit-menit terakhir pemilik kapal mengatakan tidak bisa melakukannya."
Aliran minyak dari Timur Tengah telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir, kembali mendekati level sebelum perang, seiring meningkatnya jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz meski Iran terus meningkatkan serangan maritim.
Peningkatan aliran ini juga terjadi di tengah kelangkaan kapal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah menyebabkan biaya angkut minyak di seluruh dunia melambung tinggi. Situasi ini semakin parah di Selat Hormuz, di mana hanya segelintir pemilik kapal yang bersedia melintasi jalur perairan tersebut.
Para produsen di Teluk Persia kini terpaksa mengangkut ekspor mereka sendiri, lalu memindahkan muatan ke pelanggan tepat di luar jalur perairan tersebut.
Berdasarkan data penyedia informasi Kpler, HPCL membeli sekitar 240.000 barel minyak per hari dari Timur Tengah pada 2025. Angka ini sempat anjlok menjadi 57.000 barel per hari pada April ketika perang hampir menutup akses melalui Selat Hormuz, tetapi kemudian naik menjadi rata-rata 256.000 barel per hari pada bulan lalu seiring meningkatnya ketersediaan pasokan dari kawasan tersebut.
Bulan lalu, Kaushal menyebut biasanya, perusahaan penyulingan yang berbasis di Mumbai ini memperoleh sebagian besar pasokan tersebut dari wilayah Teluk. Namun, belakangan ini mereka semakin beralih ke pasar spot dan menerima pengiriman langsung di pabrik-pabrik mereka.
(bbn)






























