Logo Bloomberg Technoz

Tembaga "sudah habis di mana-mana," ujar Xiao Chuankang, analis perusahaan konsultan Mysteel Global yang berbasis di Shanghai. "Premi akan tetap tinggi karena kelangkaan pasokan."

Premi impor China telah lama menjadi indikator yang diawasi ketat dalam pasar tembaga global karena peran negara tersebut sebagai pembeli terbesar di dunia.

Namun, ketidakpastian seputar rencana tarif Presiden Donald Trump bisa dibilang telah menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga logam ini sepanjang tahun ini.

Para trader telah mengirim ratusan ribu ton tembaga ke AS sebagai antisipasi jika Trump memperluas kebijakan tarif hingga mencakup tembaga olahan untuk kali pertama. Meski secara keseluruhan persediaan global tergolong tidak rendah, stok tersebut kini terkonsentrasi secara masif di AS.

Menurut para trader, permintaan di China tetap stabil meski harga di LME mendekati rekor tertinggi. Ekspor tembaga dari Afrika mungkin akan meningkat, tetapi diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua bulan untuk sampai ke negara Asia tersebut.

Persediaan di China saat ini di bawah tingkat normal untuk periode ini, sementara smelter tembaga telah memangkas produksi dan mengancam akan melakukan pemotongan lebih lanjut akibat tekanan biaya yang lebih tinggi.

Produksi tembaga olahan di China turun 1,1% pada kuartal ketiga dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga tembaga di LME relatif stabil di level US$14.477 per metrik ton pada pukul 13.30 WIB, setelah mengalami kenaikan selama empat hari berturut-turut. Logam merah ini telah menguat 16% sepanjang tahun ini dan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$14.875 pada September.

(bbn)

No more pages