Kata dia, apabila aspirasi massa di pusat Jakarta tersebut masih tidak mendapat perhatian pemerintah, hal itu akan menjadi pertanyaan bagi keseriusan pemerintah dalam mendengarkan kritik masyarakat.
“Kalau semisal dari jantungnya saja, pemerintah masih tidak memedulikan, saya merasa bahwa memang pemerintah Pak Prabowo-Gibran ini tidak serius kalau demikian,” ujarnya.
Hafidz menuturkan aksi tersebut juga menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan keresahan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang telah berjalan selama dua tahun. Dia menilai kritik dan tuntutan yang disampaikan selama ini belum mendapat tanggapan yang memadai dari pemerintah.
Aksi pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ini membawa sejumlah tuntutan, antara lain terkait kebijakan ekonomi, pemangkasan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), serta penetapan status bencana nasional untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain itu, BEM UI memperkirakan sekitar 800 hingga 1.000 mahasiswa akan berangkat dari UI untuk mengikuti aksi tersebut. Hafidz menuturkan, mahasiswa yang tergabung dalam Komite SADAR sepakat tidak mengenakan jaket almamater agar aksi lebih inklusif dan dapat merangkul masyarakat luas.
“Kami ingin aksi pada hari ini itu seinklusif mungkin dan juga merangkul rakyat sebaik mungkin,” pungkasnya.
(mef/frg)



























