Logo Bloomberg Technoz

Selain menjamin ketersediaan pasokan, Bahlil juga menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi untuk masyarakat, khususnya jenis BBM dengan angka oktan (Research Octane Number/RON) 90 atau Pertalite. Ia memastikan tidak akan ada kenaikan harga untuk jenis bahan bakar tersebut.

"Untuk harga BBM subsidi [RON 90], saya tegaskan tidak naik," ujar Bahlil.

Konsumen membeli Pertalite di SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Pemerintah memproyeksikan anggaran subsidi dan kompensasi BBM tetap terkendali meskipun terjadi fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). 

Adapun dengan rata-rata harga ICP yang berada di kisaran US$72-75 per barel, menurut Bahlil, kebijakan penyetelan anggaran telah dikoordinasikan secara matang antara Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian. 

Kebijakan ini selaras dengan instruksi langsung dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yang meminta agar harga BBM bersubsidi tetap ditahan hingga akhir tahun.

"BBM subsidi tidak boleh naik sampai akhir tahun, dan segala penyesuaian anggaran telah dikoordinasikan secara matang bersama Kementerian Keuangan dan Kemenko Perekonomian," jelasnya.

2027: Fase Kritikal bagi RI

Sebelumnya, Ekonom Senior sekaligus Guru Besar Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan tekanan terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional diperkirakan tidak akan bersifat sementara, melainkan berpotensi memuncak ke fase sangat kritikal hingga 2027.

Penilaian ini merespons serangkaian gangguan mendasar pada rantai pasok BBM domestik belakangan ini; mulai dari kelangkaan BBM yang memicu antrean panjang kendaraan di berbagai daerah seperti Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi.

"Perkiraan saya, situasi ini akan berlanjut hingga 2027. Bahkan, 2027 adalah saat yang sangat kritikal bagi kita," ungkap Wijayanto saat dihubungi Bloomberg Technoz, Sabtu (24/10/2026).

Wijayanto memaparkan kerentanan utama Indonesia saat ini terletak pada ketahanan stok nasional yang makin menipis.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan operasional BBM jenis Pertalite (RON 90) kini merosot ke kisaran 16 hingga 18 hari, jauh di bawah posisi aman ideal yang berada di atas 20 hari.

Kondisi tersebut diperparah oleh ketergantungan Indonesia pada pasokan luar negeri. Di tengah penyusutan volume impor akibat penyesuaian belanja kilang dan efisiensi fiskal, posisi pasokan BBM domestik menjadi sangat rentan terhadap guncangan eksternal.

"Kapasitas produksi kilang domestik kita belum mampu menutupi seluruh kebutuhan BBM nasional. Ketika impor harus dikurangi atau terhambat, ruang penyangga kita otomatis langsung tergerus hingga ke level kritis 16 hari ini," tutur Wijayanto.

Dari sisi eksternal, Wijayanto menyoroti harga minyak mentah dunia 2027 yang diprediksi terus bertahan di level tinggi, yakni berada pada kisaran US$85/barel. 

Angka ini melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 yang hanya dipatok lebih di level US$75/barel.

"Selisih harga minyak dunia yang jauh di atas asumsi APBN ini memberikan beban fiskal yang sangat berat bagi anggaran negara maupun kemampuan keuangan BUMN pengelola BBM," jelasnya.

Tantangan tidak berhenti pada persoalan harga semata, melainkan juga ketersediaan fisik minyak (suplai) yang makin sulit didapatkan di pasar internasional akibat krisis energi global dan gejolak politik.

"Negara-negara maju dan berdaya beli tinggi terus mengamankan pasokan energi fosil untuk kebutuhan domestik mereka, sehingga menggerus jatah pasokan bagi negara berkembang seperti kita," tegas Wijayanto.

Selain persoalan global, Wijayanto juga menekankan bahwa faktor internal seperti fenomena iklim dan cuaca ekstrem turut memicu disrupsi jalur logistik BBM secara masif di Tanah Air.

Fenomena kemarau serta cuaca tidak menentu mengganggu pengiriman BBM antarpulau.

"Sistem logistik dan transportasi BBM kita di daerah-daerah sangat peka terhadap perubahan cuaca. Ketika ada gangguan pengapalan atau kendala distribusi di armada tanker, pasokan ke Terminal BBM langsung terhenti dan dampaknya cepat meluas ke SPBU," paparnya.

Wijayanto menegaskan bahwa tanpa intervensi menyeluruh untuk memperkuat cadangan strategi dan merombak tata kelola logistik, ketahanan BBM Indonesia akan terus berada dalam posisi mengkhawatirkan.

"Kombinasi antara hambatan distribusi lokal, terbatasnya ruang impor, dan gejolak pasar global inilah yang diprediksi akan terus menekan stabilitas pasokan BBM Indonesia hingga tahun depan," pukas Wijayanto.

(smr/ros)

No more pages