Disusul Shenzhen Composite (China), PSEi (Filipina), CSI 300 (China), KLCI (Malaysia), NIKKEI 225 (Jepang), Straits Time (Singapura), Shanghai Comp. (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), dan SENSEX 30 (India) yang melemah 0,99%, 0,98%, 0,59%, 0,51%, 0,46%, 0,44%, 0,09%, 0,08%, dan 0,06%.
Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Siang hari ini, rupiah melemah 0,35% ke Rp18.122/US$. Mata uang Nusantara semakin tergerus hingga mendekati level terendah sepanjang masa di Rp18.178/US$.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 101,81 sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul eskalasi konflik Timur Tengah.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, harga minyak mentah acuan global Brent menembus level tertinggi dalam enam bulan mencapai US$115 per barel. Presiden AS Donald Trump mengatakan “waktu untuk mengambil keputusan semakin dekat” terkait pilihan untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran atau kembali melancarkan serangan, di tengah meningkatnya ancaman Iran dan kelompok Houthi terhadap warga AS di Timur Tengah.
Situasi terus memanas setelah risiko geopolitik juga diprediksi tetap tinggi menjelang bulan depan. Trump mengisyaratkan serangan AS terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November.
Saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada nantinya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, maka investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad/aji)





























