PNBP Minerba
Di sisi lain, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba sepanjang Januari—15 Oktober 2026 mencapai Rp127,74 triliun atau naik 34,5% dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp94,98 triliun.
Realisasi PNBP minerba hingga 15 Oktober 2026 mencapai 98,42% dari target ahun ini sebesar Rp133,63 triliun.
Sementara itu, realisasi PNBP sektor minerba sepanjang tahun ini diproyeksi mencapai Rp165,27 triliun atau melebihi target sebesar 23,7%.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim setoran PNBP dari sektor minerba pada tahun ini bakal mencapai Rp160 triliun atau melebihi target yang dipatok sekitar Rp133 triliun.
Bahlil menyatakan setoran PNBP tersebut tetap tinggi meskipun pemerintah melakukan pemangkasan produksi, khususnya pada komoditas batu bara.
“Pendapatan negara PNBP kita dari Rp133 triliun, itu bisa kita bisa mencapai di atas Rp160 triliun lebih. Jadi rata-rata oke ya,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (21/10/2026), malam.
Di sisi lain, Bahlil memproyeksikan target setoran devisa dari ekspor batu bara pada tahun ini bakal melampaui target.
Dia menyatakan target setoran devisa dari ekspor batu bara tahun ini mencapa US$27 miliar atau sekitar Rp486,5triliun, tetapi realisasinya diramal mencapai US$30 miliar atau setara dengan Rp540,6 triliun.
“Batu bara kita, sekalipun produksinya menurun, target PNBP kita bisa melampaui target. Ekspor kita, target devisa dari sektor batu bara tahun ini, itu akan mencapai melewati target,” klaim dia.
Adapun, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mencatat setoran PNBP dari komoditas nikel dan batu bara telah mencapai Rp87 triliun hingga 31 Agustus 2026.
Komoditas batu bara memberikan kontribusi sebesar Rp66 triliun, naik dari capaian periode sama sebelumnya sejumlah Rp59 triliun.
Sampai dengan akhir Agustus 2026, penerimaan dari seluruh subsektor tambang menembus angka total Rp108 triliun, dari target setoran PNBP sepanjang 2026 senilai Rp136,18 triliun.
(azr/wdh)
























