Bloomberg Technoz telah menghubungi Direktur Utama JSMR Rivan Kurniawan ihwal pernyataan minat perseroan untuk mengambil alih bagian saham ADHI di JAP. Hanya saja, permohonan konfirmasi belum ditanggapi sampai berita tayang.
ADHI tercatat telah menyetorkan modal Rp60,35 miliar ke JAP hingga Desember 2025, yang mewakili kepemilikan sebesar 6,37%.
Perseroan belum mengungkapkan nilai transaksi divestasi maupun jadwal penyelesaian pengalihan saham tersebut dalam catatan perkembangan yang disampaikan pada laporan keuangan September 2026.
Selain JAP, ADHI juga melanjutkan rencana divestasi kepemilikan sahamnya pada PT Jasamarga Bali Tol (JBT). Perseroan menindaklanjuti surat Jasa Marga tertanggal 26 Mei 2026 terkait tanggapan atas penawaran pengalihan saham ADHI di JBT melalui kick-off meeting pada 31 Juli 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero), WIKA, dan PT Hutama Karya.
ADHI menyebut pertemuan itu sebagai salah satu tahapan awal dalam pelaksanaan rencana divestasi saham JBT. Koordinasi dan pembahasan juga terus dilakukan bersama Jasa Marga, BUMN Karya, serta pihak terkait lainnya.
Kondisi Keuangan
Langkah divestasi tersebut berlangsung ketika ADHI masih menghadapi tekanan pada arus kas operasional dan penurunan pendapatan.
Dalam sembilan bulan pertama 2026, ADHI membukukan pendapatan usaha Rp5,37 triliun, turun 4,96% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,65 triliun.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADHI tercatat sebesar Rp15,34 miliar pada Januari–September 2026, melonjak 247,06% dibandingkan Rp4,42 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi berbalik negatif Rp475,12 miliar, dibandingkan posisi positif Rp328,76 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Saldo kas dan setara kas ADHI tercatat Rp855 miliar per 30 September 2026, turun sekitar 49,99% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp1,71 triliun. Adapun total liabilitas perseroan mencapai Rp23,46 triliun.
(fik/naw)































