Logo Bloomberg Technoz

Dia menilai sejumlah saham perbankan tersebut menawarkan potensi dividend yield yang lebih tinggi dibandingkan deposito, sekaligus membuka peluang keuntungan apabila harga saham mengalami pemulihan.

“Jadi dengan kita megang aja barang ini mendapat dividen setiap tahun 8%, lebih tinggi dari deposito. Sehingga kalau harga sahamnya naik atau rebound, kita juga bisa jual,” katanya.

Secara khusus, Jusuf mencontohkan saham BMRI yang menurut dia sempat diperdagangkan pada kisaran Rp6.000-Rp7.000/saham sebelum turun ke kisaran Rp3.300-Rp3.400/saham.

Jusuf juga menyebut potensi imbal hasil dividen BMRI sebagai salah satu pertimbangannya untuk membeli saham tersebut. Meski demikian, realisasi dividend yield bergantung pada harga saham saat pembelian dan besaran dividen yang dibagikan perusahaan.

Lebih lanjut, Jusuf mengajak para pengusaha untuk ikut berpartisipasi di pasar modal Indonesia di tengah tekanan yang terjadi. Dia menilai langkah tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap perekonomian nasional.

“MSCI saja yang buat begini, terus semua dibuat menggoyangkan pemerintahan kita. Nah, kalau kita sebagai warga negara yang baik berpangku tangan saja, siapa yang bela negeri kita?” ujar Jusuf.

Dia pun mengajak pengusaha lain untuk mengikuti langkah konsorsiumnya dalam membeli saham pada Senin.

“Kalau kelompok saya saja bisa belanja Rp5 triliun, kalian ada puluhan ribu pengusaha kita yang mampu. Kalau bukan kita siapa yang bela negeri kita, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Yuk Senin kita bergandengan tangan,” katanya.

Rencana pembelian tersebut disampaikan Jusuf melalui unggahan media sosialnya. Belum terdapat rincian mengenai komposisi saham yang akan dibeli maupun realisasi transaksi konsorsium tersebut.

(dhf)

No more pages