Kontrak berjangka minyak pemanas (heating oil) anjlok hingga 5% dalam perdagangan setelah penyelesaian resmi, memimpin pelemahan di sektor energi.
Diesel, bahan bakar yang menggerakkan perekonomian global, telah menjadi salah satu sumber tekanan terbesar akibat perang Iran dan serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia.
Meskipun harga minyak mentah telah naik sekitar 70% tahun ini, harga produk minyak hasil penyulingan melonjak lebih tajam.
Harga eceran diesel di AS bahkan telah menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, menambah kekecewaan pemilih menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Untuk mengatasi lonjakan harga tersebut, pemerintahan Trump telah mempertimbangkan larangan langsung ekspor diesel yang kontroversial serta mencabut pembatasan penggunaan jenis bahan bakar yang dibebaskan dari pajak.
Pernyataan Trump meredam sentimen pasar yang sebelumnya sangat bullish. Meskipun aliran minyak mentah dari Timur Tengah belakangan meningkat, kontrak berjangka minyak menguat pekan ini setelah serangan terbaru Iran terhadap kapal tanker meningkatkan risiko bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik krusial perdagangan energi dunia.
Sementara itu, biaya pengangkutan melonjak ke rekor tertinggi karena serangan terhadap kapal tanker meningkatkan risiko di jalur pelayaran tersebut.
Pertempuran yang kembali berkobar antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran turut menambah ketidakpastian di pasar.
“Lebih banyak kapal kini terikat dalam proses pemindahan muatan antarkapal (ship-to-ship transfer), yang dapat memakan waktu hingga 10 hari, sementara kapal lainnya menempuh rute yang lebih panjang untuk menghindari wilayah berisiko tinggi,” kata para analis JPMorgan yang dipimpin Natasha Kaneva dalam sebuah catatan.
“Perhitungannya sederhana: semakin lama setiap kapal mengangkut kargo, semakin banyak kapal yang dibutuhkan untuk mengangkut volume minyak yang sama.”
Di luar Timur Tengah, produsen minyak di Teluk Meksiko AS telah menghentikan sekitar 72% produksi minyak mentah mereka ketika Badai Isaias bergerak menuju pesisir AS. Badai tersebut diperkirakan mencapai daratan pada Jumat malam atau Sabtu dini hari.
Hampir 500.000 barel per hari kapasitas pengilangan minyak berada di dalam atau di dekat jalur yang diperkirakan akan dilalui badai tersebut. Sejumlah pelabuhan juga ditutup menjelang kedatangan badai, sehingga mengganggu pengiriman minyak mentah melalui laut.
Sementara itu, lonjakan biaya pengangkutan yang bersejarah akibat dampak perang Iran turut meningkatkan biaya secara signifikan di sepanjang rantai pasok minyak. Biaya pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia ke Asia Timur kini lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik.
Di sejumlah wilayah dunia, harga minyak mentah bahkan lebih tinggi karena para pedagang berupaya mengamankan pasokan yang paling dekat. Harga acuan Dated Brent, yang menjadi dasar penetapan harga minyak di Eropa, menembus US$135 per barel pada Kamis, level tertinggi sejak April, ketika kilang-kilang di kawasan tersebut berlomba mendapatkan pasokan.
Salah satu perkembangan positif datang dari Saudi Aramco. Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu telah memberi tahu para pengelola kilang minyak di Eropa bahwa mereka akan menerima seluruh volume minyak mentah yang diminta untuk November.
Pada bulan sebelumnya, Aramco memberi tahu pelanggan yang sama bahwa mereka tidak akan mendapatkan alokasi minyak mentah.
Pertempuran yang kembali berkobar antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman juga meningkatkan kekhawatiran di kawasan tersebut.
Otoritas Arab Saudi mengatakan tiga warga Saudi tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam dua serangan terhadap bandara utama di ibu kota Riyadh pada Kamis.
“Risiko eskalasi militer lebih lanjut yang dapat mengganggu aliran pasokan membuat para pedagang enggan meningkatkan posisi jual secara agresif dan bertaruh pada penurunan harga yang berkelanjutan hingga di bawah US$100 per barel,” kata Chris Weston, kepala riset di Pepperstone Group Ltd.
Ia menambahkan, pasar saat ini berada dalam kondisi “dua arah, ketika premi risiko geopolitik bersaing dengan membaiknya dinamika pasokan fisik”.
(bbn)






























