Biaya El Niño, 'Kue' Ekonomi Tak Merata dan Obat Kesepian Urban
Bloomberg Businessweek Indonesia
10 October 2026 07:12

Bloomberg Technoz, Jakarta - Anomali iklim El Niño tahun ini yang diperkirakan sebagai salah satu yang terkuat, sejatinya sudah diprediksi jauh-jauh hari, akan tetapi terlihat gagap dimitigasi dampaknya oleh pengelola negara. Kerugian akibat dampak El Nino diperkirakan melampaui angka Rp120 triliun, menyusul kebakaran hutan dan lahan yang semakin sulit diatasi karena kemarau, juga kekeringan yang berdampak luas pada kelangsungan industri sampai memantik risiko gagal panen, belum ditambah biaya kesehatan jangka pendek dan panjang yang harus ditanggung masyarakat.
Dampak El Nino yang diramal akan berlangsung hingga Maret 2027 semakin membebani perekonomian domestik yang sudah terseok menghadapi krisis harga energi akibat guncangan geopolitik, juga instabilitas ekonomi global dengan lingkungan suku bunga tinggi. Isu ini menjadi Sorotan Utama dalam Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026.
Sebelum melahap Sorotan Utama, para pembaca akan kami ajak memasuki Selasar Peristiwa, yang dibuka dengan laporan menarik tentang pembagian 'kue' ekonomi Indonesia yang semakin tak merata. Analisis terbaru menegaskan fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5% yang kerap dibangga-banggakan setahun terakhir, hanya dinikmati oleh segelintir masyarakat saja.
Pendekatan Growth Incidence Curve terbaru mendapati, tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kelompok terkaya menjadi yang paling menikmati pertumbuhan kesejahteraan. Sementara kalangan menengah menjadi yang paling pahit nasibnya. Ini menjelaskan kian kuatnya terjadi vibecession di tengah masyarakat ketika pengelola negara jor joran memakai uang pajak untuk program prioritas yang ternyata dampaknya tak inklusif ke seluruh lapisan.
Selanjutnya, pembaca bisa membaca kondisi terbaru industri penggemukan sapi (feedlot) di Tanah Air yang semakin kehilangan daya tarik. Banyak usaha penggemukan sapi di Indonesia gulung tikar dan mengurangi ekspansi karena kombinasi antara harga bakalan juga pakan nan mahal berhadapan dengan batas harga jual, sehingga cuan pun kian menipis bahkan merugi.






























