Trump, yang beberapa kali bertemu Kim selama masa jabatan pertamanya tetapi pada akhirnya gagal mencapai kesepakatan, berulang kali mengatakan dirinya terbuka untuk kembali berbicara dengan pemimpin Korut tersebut. Namun, Kim sejauh ini menolak tawaran tersebut.
Lee mengatakan Korsel akan berupaya mengubah setiap pembicaraan AS-Korut yang kembali digelar menjadi perundingan resmi yang bertujuan secara formal mengakhiri Perang Korea dan membangun perdamaian. Korsel secara teknis masih berstatus perang dengan Korut yang memiliki senjata nuklir setelah konflik 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Lee memaparkan pendekatan baru, di mana Korut terlebih dahulu menghentikan pengembangan kemampuan nuklir dan misilnya, kemudian menguranginya dalam jangka menengah sebelum pada akhirnya menuju Semenanjung Korea yang bebas senjata nuklir. Pendekatan tersebut menandai pergeseran dari tuntutan agar Kim segera menyerahkan senjata nuklirnya, strategi yang berujung pada kegagalan perundingan Trump-Kim terakhir yang substantif di Vietnam pada 2019.
“Saya yakin kita dapat terlebih dahulu menghentikan pengembangan lebih lanjut kemampuan nuklir dan misil Korea Utara, mengurangi kemampuan tersebut dalam jangka menengah, dan dalam jangka panjang bergerak menuju Semenanjung Korea yang bebas senjata nuklir,” kata Lee.
Meskipun menghadapi berbagai sanksi PBB, Korut kini mampu memproduksi material yang cukup untuk membuat hingga 20 senjata nuklir per tahun, kata Lee pada Januari. Rezim Kim, yang telah menyatakan dirinya sebagai negara pemilik senjata nuklir, kini tidak terlalu terisolasi dibandingkan beberapa dekade terakhir. Hal itu antara lain ditandai dengan pakta pertahanan bersama dengan Rusia pada 2024 yang membuat Korut membantu Moskow dalam perangnya melawan Ukraina.
Lee berpendapat Trump berada dalam posisi yang unik untuk membawa pemimpin Korut kembali ke meja perundingan, mengingat diplomasi personal antara kedua pemimpin selama masa jabatan pertama presiden AS tersebut. Pembicaraan mereka runtuh pada 2019 tanpa kesepakatan untuk membongkar program nuklir Korut atau melonggarkan sanksi internasional.
Dalam wawancara dengan New York Times yang diterbitkan awal pekan ini, Lee mendesak Washington mempertimbangkan pelonggaran sanksi sebagai imbalan atas pembekuan program senjata Korea Utara. Menurutnya, pembatasan yang ada terbukti tidak efektif. Dia memperingatkan bahwa jika tetap bersikeras pada denuklirisasi segera, tidak akan ada kemajuan karena Pyongyang terus memperluas persenjataan nuklir dan mengembangkan teknologi rudal balistik antarbenua.
Lee mengatakan Seoul akan bertindak sebagai pihak yang terlibat langsung sekaligus “pemacu” dalam proses perdamaian, sambil berupaya memulihkan saluran komunikasi dasar dengan Pyongyang dan secara bertahap membangun kembali kepercayaan. Dia juga berjanji menghormati sistem politik Korut dan mengupayakan kerja sama di berbagai bidang, termasuk kesehatan, penanganan bencana, dan perubahan iklim.
(bbn)































