Logo Bloomberg Technoz

Selain masalah efisiensi pendinginan, Fabby menekankan bahwa pengalihan beban ke PLTU terkendala oleh pasokan energi primer berupa batu bara. 

Cuaca panas ekstrem akibat El Ninõ telah mengeringkan permukaan air di jalur sungai vital, seperti Sungai Kapuas dan Sungai Barito di Kalimantan.

Kondisi tersebut menyulitkan transportasi tongkang pengangkut batu bara dan BBM.

Penundaan pengiriman juga rentan terjadi di jalur laut apabila gelombang tinggi atau badai melanda.

"Dampaknya, transportasi tongkang pengangkut batu bara dan pasokan BBM di Kalimantan mengalami kendala. Pasokan batu bara ke PLTU jadi terhambat," tambahnya.

Sebuah tongkang yang mengangkut batu bara di Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Atas dasar dinamika tersebut, Fabby menyimpulkan perubahan iklim berdampak menyeluruh terhadap seluruh sistem energi, baik pembangkit terbarukan maupun termal.

Pemerintah diimbau tidak memaksakan penggunaan pembangkit fosil, melainkan fokus pada peningkatan keandalan dan ketahanan sistem kelistrikan nasional dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.

"Jadi intinya memang pemerintah harus membuat sistem kelistrikan kita lebih andal [reliable] dan tahan [resilient] terhadap ancaman perubahan iklim," ungkapnya. 

Secara umum, Fabby menyarankan pengembangan Distributed Energy Resources (DER)—pembangkit energi terbarukan terdistribusi skala kecil (on-site generation). 

"Dengan DER, ini jenis pembangkit terdistribusi yang jauh lebih andal dan tidak rentan terhadap gangguan ketahanan iklim dibanding pembangkit terpusat skala besar," tambahnya. 

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tidak menampik fenomena El Niño telah memicu penurunan debit air di sejumlah wilayah, sehingga mengganggu optimasi produksi listrik dari PLTA.

Dia menyatakan pemerintah sedang menyiapkan pembangkit listrik lain sebagai sumber energi, termasuk PLTU batu bara, sebagai pasokan pengganti sementara.

"Itu yang terjadi di beberapa wilayah yang memakai PLTA, dan perlahan-lahan sudah mulai bisa diatasi. [Untuk] sementara pengganti [PLTA] dengan pembangkit yang lain," kata Bahlil saat ditemui awak media usai agenda MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Selasa (22/9/2026).

Dia menjelaskan penurunan debit air sungai tidak hanya menurunkan daya pembangkit listrik, tetapi juga menyebabkan pendangkalan alur pelayaran perahu di kawasan Papua.

"Bahkan sebagian sungai-sungai yang tadinya bisa dilalui perahu atau kapal, kayak di Papua, di Papua Selatan untuk menuju Asmat naik itu agak mengalami kedangkalan daripada sungai," kata dia. 

Bahlil sebelumnya mengungkapkan, selain kawasan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), wilayah Kalimantan juga mulai terdampak penurunan pasokan air.

"Daerah-daerah lain sebentar kita akan rapatkan dengan PLN untuk kita mitigasi sejak awal, ya," jelas Bahlil di DPR, Rabu (16/9/2026).

Turunnya debit air akibat musim kemarau panjang ini berdampak langsung pada kemampuan produksi listrik berbasis hidro.

Di sistem kelistrikan Sulbagsel, daya mampu agregat pembangkit hidro merosot drastis dari 850 megawatt (MW) menjadi hanya 250 MW—artinya terjadi penurunan pasokan hingga 600 MW.

Penurunan signifikan tersebut berdampak pada operasional sejumlah unit vital, antara lain PLTA Poso, PLTA Bakaru, PLTA Malea, hingga beberapa pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM).

"Laporan yang saya terima bahwa di Sulawesi Selatan itu kan ada beberapa pembangkit yang memang kita pakai PLTA. Akibat El Niño ini kan daya kekuatan air itu berkurang. Maka kita sudah mencari solusi adalah mengganti sementara dengan pembangkit yang lain," tutup Bahlil.

(smr/ros)

No more pages