“Ini bukan kekuatan kompetitif, tetapi kekuatan yang saling melengkapi. Dan di situlah saya percaya peluang tersebut berada,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon mengatakan pemerintah ingin memperkuat kolaborasi dengan HKCHAM untuk meningkatkan investasi Hong Kong di Indonesia.
“Kita ingin memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan investasi Hong Kong di Indonesia. Tahun lalu, investasi Hong Kong di Indonesia sudah mencapai US$10,6 miliar dan kami berharap tahun ini dapat meningkat kembali,” ujar Ali.
Dia mengatakan pemerintah juga menyiapkan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai salah satu pintu masuk investasi baru.
“Saya kira KEK merupakan salah satu program yang sangat menarik. Kami yakin kita sudah setara dengan program-program KEK yang ada di Vietnam, Malaysia, bahkan China,” katanya.
Ali menambahkan, pemerintah menargetkan investasi nasional meningkat dari sekitar Rp1.900-Rp2.000 triliun pada 2026 menjadi sekitar Rp2.300 triliun pada tahun berikutnya.
Karena itu, pemerintah akan mendorong investasi melalui kawasan industri dan KEK, termasuk dengan memperluas kerja sama dengan mitra internasional.
“Kita akan dorong investasi di kawasan-kawasan industri, kemudian juga di kawasan ekonomi khusus. Ini adalah persiapan-persiapan yang sudah kami lakukan dari pemerintah bersama sektor swasta,” tutur Ali.
Kehadiran HKCHAM melengkapi ekosistem promosi perdagangan dan investasi Hong Kong-Indonesia. Sebelumnya, HKTDC juga aktif mempertemukan pelaku usaha kedua negara melalui berbagai kegiatan bisnis.
Dengan terbentuknya HKCHAM, Suwito berharap hubungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi lebih banyak kemitraan konkret.
“Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya apa yang bisa Hong Kong tawarkan kepada Indonesia, atau apa yang bisa Indonesia tawarkan kepada Hong Kong. Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita capai bersama,” kata Suwito.
(tim)





























