Logo Bloomberg Technoz

“Kondisi ini membuat lereng gunung semakin tidak stabil dan meningkatkan risiko bencana seperti ini,” kata Davies, seperti dikutip The Climate Watch, dikutip Rabu (16/9/2026).

Menurut analisis tersebut, selama beberapa dekade pemanasan telah mendorong garis beku di Himalaya naik sekitar 100 meter. Kondisi itu membuat gletser terus mundur, sementara tanah beku dan lapisan es di celah-celah batuan gunung terpapar suhu yang lebih hangat dalam waktu lebih lama.

Kondisi tersebut dapat melemahkan struktur lereng dan meningkatkan kemungkinan terjadinya keruntuhan.

Direktur Climate Analytics South Asia Manjeet Dhakal menyebut, kenaikan suhu mengubah kondisi gletser, salju, permafrost, serta lingkungan pegunungan secara keseluruhan.

Dia menilai perubahan tersebut menciptakan risiko bencana yang semakin kompleks, sekaligus menguji kemampuan Nepal dalam menghadapi bencana di kawasan Himalaya.

Suhu Tinggi Sebelum Bencana

Analisis tersebut juga menemukan suhu di lokasi bencana berada pada tingkat yang tidak biasa sebelum runtuhnya gunung. Juli dan Agustus 2026 disebut menjadi periode terpanas yang pernah tercatat di wilayah tersebut.

Selain itu, hujan salju lebat pada Oktober dan November 2025 menyediakan tambahan air yang kemudian berkontribusi terhadap pencairan sebelum terjadinya keruntuhan.

Namun, para ilmuwan menyatakan bahwa temuan tersebut belum membuktikan keruntuhan tidak akan terjadi tanpa perubahan iklim. Penelitian menunjukkan, pemanasan telah mengubah sejumlah kondisi di Himalaya yang dapat memengaruhi kestabilan lereng.

Bencana tersebut juga memperlihatkan keterbatasan sistem adaptasi dan peringatan dini Nepal. Negara tersebut telah memiliki sistem peringatan dini serta rencana kesiapsiagaan bencana, tetapi skala dan kompleksitas kejadian dinilai melampaui kapasitas sistem yang ada.

Reuters sebelumnya melaporkan, runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada akhir Agustus menewaskan sedikitnya 1.300 orang dan menyebabkan lebih dari 5.300 orang hilang di Nepal dan wilayah Tibet, China. Bencana juga merusak pembangkit listrik tenaga air, jalan, jembatan, rumah, serta jalur perdagangan lintas batas.

Pemerintah Nepal memperkirakan kebutuhan dana awal untuk pemulihan mencapai sekitar US$5 miliar dan telah mencari dukungan dari lembaga internasional serta negara-negara donor.

(mef/wep)

No more pages