Perkuat Petani dari Hulu, Yuana Sutyowati Angkat Potensi Kopi

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pengembangan industri kopi Indonesia tidak hanya bergantung pada pertumbuhan pasar, tetapi juga pada kemampuan memperkuat petani sebagai fondasi ekosistem dari sisi hulu.
Perspektif tersebut disampaikan Chief Executive Officer (CEO) COOP Coffee Foundation Yuana Sutyowati dalam sesi panel “Different Paths, One Purpose: Women Leading Change Across Industries” pada Women On The Move 2026 yang diselenggarakan Bloomberg Technoz.
Yuana menilai pengalaman panjangnya di pemerintahan memberikan perspektif mengenai pentingnya pemberdayaan masyarakat ketika terjun ke sektor kopi. Selama hampir 38 tahun, ia bersentuhan dengan berbagai program pengembangan UMKM, termasuk petani dan pengrajin yang berada di tingkat hulu.
“Selama hampir 38 tahun itu saya mendampingi mereka dengan berbagai program, dari hulu sampai hilir,” ujar Yuana.
Menurut dia, pendekatan dari hulu menjadi penting karena petani merupakan bagian awal dari rantai nilai komoditas. Penguatan kapasitas di tingkat produsen kemudian perlu terhubung dengan aspek pemasaran dan kebutuhan industri.
Pengalaman tersebut juga menjadi relevan ketika Yuana bergabung dengan COOP Coffee Foundation. Ia melihat terdapat kesamaan misi antara kiprahnya sebelumnya dengan aktivitas yayasan yang berfokus pada pemberdayaan petani kopi di tingkat akar rumput.
“Setelah nyemplung di yayasan, karena kopi itu adalah NGO, non-government organization sebagai yayasan, yang misinya memang inline sebetulnya, itu pemberdayaan,” kata Yuana.
Ia mengatakan posisi sebagai mantan regulator turut memberikan perspektif mengenai tantangan pengembangan sektor komoditas. Menurut Yuana, regulasi dan pengembangan industri perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan pelaku di lapangan.
“Karena saya mantan regulator, misalnya sekarang kan isu dari kopi itu, kami ini kan memberdayakan petani kopi grassroot, karena ini jadi sudah inline,” ujarnya.
Yuana melihat persoalan yang dihadapi kopi memiliki sejumlah kesamaan dengan komoditas perkebunan lain, seperti kakao dan teh. Salah satu isu penting yang perlu diperhatikan adalah kualitas produk yang semakin menentukan posisi komoditas di pasar.
“Karena kopi dan mungkin komoditi lain ya, ada coklat, ada teh, ini persoalan itu sebenarnya sama. Jadi dalam hal kualitas dan lain-lain, dan ini kan market driven,” tutur dia.
Di sisi lain, Yuana melihat kopi memiliki karakter khusus karena permintaannya tidak hanya datang dari pasar domestik. Kopi Indonesia juga memiliki daya tarik di pasar global dengan keragaman asal geografis dan karakter produk.
“Kopi itu komoditi yang seksi di pasar dunia,” kata Yuana.
Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan kopi yang tercermin dari banyaknya wilayah penghasil dengan karakteristik geografis masing-masing. Ia menyebut terdapat lebih dari 48 indikasi geografis kopi Indonesia yang menjadi bagian dari potensi tersebut.
“Persoalannya itu kopi Indonesia dengan lebih dari 48 indikasi geografis ya, nah itu kan diminati,” ujarnya.
Yuana mencontohkan sejumlah daerah yang telah dikenal sebagai penghasil kopi, seperti Kintamani di Bali, Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Bajawa di Nusa Tenggara Timur, serta Java Preanger di Jawa Barat.
Keragaman tersebut, menurut Yuana, menjadi modal yang dapat dikembangkan lebih jauh dengan memperkuat kapasitas petani sekaligus menjaga kualitas produk. Dengan pendekatan tersebut, nilai ekonomi komoditas diharapkan tidak hanya bertumpu pada aktivitas perdagangan di hilir, tetapi juga memberikan ruang lebih besar bagi pelaku di tingkat produksi.
Perspektif ini menjadi bagian dari pembahasan Women On The Move 2026 yang mengangkat tema kepemimpinan perempuan lintas sektor. Forum tersebut mempertemukan perempuan dari pemerintahan, dunia usaha, profesional, hingga komunitas dengan latar belakang perjalanan yang berbeda, tetapi memiliki perhatian pada kontribusi dan penciptaan perubahan.

































