“Minyak mentah berada di antara realitas fisik yang terus menunjukkan hilangnya pasokan dan retorika yang mengarah pada potensi deeskalasi,” kata Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group. “Pada akhirnya, pasar akan lebih mempertimbangkan barel dan infrastruktur daripada retorika.”
Harga minyak mentah telah melonjak hampir 80% tahun ini seiring konflik AS-Iran meluas ke kawasan Timur Tengah yang kaya energi dan menekan ekspor. Gejolak tersebut—bersama dampak perang Rusia-Ukraina—telah meningkatkan tekanan inflasi, membantu imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2023.
Trump dan Ukraina memberikan keterangan berbeda mengenai kemungkinan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi. Trump mengatakan Moskow dan Kyiv telah sepakat menghentikan serangan tersebut—yang turut mendorong kenaikan harga diesel—sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan belum ada kesepakatan yang difinalisasi, meski mengakui adanya proposal dari AS untuk menghentikan serangan secara timbal balik.
Sejumlah indikator pasar menunjukkan kekhawatiran terhadap pengetatan pasokan. Prompt spread WTI—selisih antara dua kontrak terdekat—berada di US$4,44 per barel dalam kondisi backwardation, naik dari kurang dari US$1 sekitar sebulan lalu. Kondisi tersebut merupakan struktur bullish, ketika harga dalam jangka pendek diperdagangkan dengan premi dibandingkan kontrak-kontrak untuk periode berikutnya.
Harga:
- WTI untuk pengiriman Oktober naik 0,6% menjadi US$101,95 per barel pada pukul 06.53 waktu Singapura.
- Brent untuk penyelesaian November naik 1% dan ditutup pada US$105,68 per barel.
(bbn)































